Kreativitas UMKM Kaltim Olah Kayu Lokal Bernilai Tinggi
- 15 Feb 2026 15:58 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Perkembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kalimantan Timur menunjukkan tren yang semakin menggembirakan. Sejumlah pelaku usaha mampu mengolah kekayaan alam daerah menjadi produk bernilai tinggi, bahkan menembus pasar internasional.
Fenomena ini menjadi salah satu topik yang dibahas dalam program dialog UMKM Bicara yang disiarkan oleh RRI Samarinda, dengan tema “Kayu Lokal Karya Mengglobal.”
Industri kreatif berbasis kayu lokal menjadi contoh menarik dalam pembahasan tersebut. Kayu khas Kalimantan yang selama ini identik sebagai bahan konstruksi atau kerajinan tradisional kini hadir dalam bentuk lebih modern dan eksklusif. Produk seperti jam tangan, kacamata, hingga aksesori gaya hidup berbahan kayu mulai dikenal luas, termasuk oleh pembeli dari mancanegara.
Pemilik brand kerajinan kayu Menggeris, Lendy Zelviean Adhari, kepada RRI Samarinda menjelaskan ide usaha tersebut berawal dari ketertarikannya pada jam tangan serta kenangan masa kecil terhadap permainan tradisional berbahan kayu di daerah Kutai Kartanegara. Pengalaman tersebut mendorongnya meneliti potensi kayu lokal sebagai bahan produk bernilai tinggi.
“Saya sangat suka jam tangan kayu dan teringat permainan tradisional berbahan kayu menggeris. Dari situ saya melihat peluang membuat produk yang memiliki ciri khas dan tidak mudah ditiru, karena bahan bakunya langka dan unik,” ujarnya saat dialog bersama RRI.
Produk yang dikembangkan tidak hanya jam tangan, tetapi juga kacamata, tali jam pintar, pelindung telepon genggam, hingga tempat kartu identitas. Menurutnya, kayu menggeris memiliki karakteristik warna dan serat yang khas, sehingga mampu memberikan identitas kuat pada setiap produk. Selain itu, proses produksi dilakukan dengan teknik khusus karena tingkat kekerasan kayu yang tinggi.
Dalam proses kreatifnya, desain produk dikerjakan secara mandiri dengan dukungan beberapa perajin yang fokus pada pengolahan dan finishing. Ia menambahkan bahwa riset desain terus dilakukan agar model yang dihasilkan selalu baru dan memiliki daya saing di pasar.
Tidak hanya menonjolkan nilai estetika, aspek keberlanjutan juga menjadi perhatian. Bahan baku yang digunakan berasal dari tunggul atau kayu yang telah rebah, sehingga tidak melibatkan penebangan pohon baru. Pendekatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga kelestarian hutan.
“Kami menerapkan prinsip non-deforestasi. Bahan baku diambil dari kayu yang sudah rebah dan legalitasnya tercatat, bahkan sebagian keuntungan dialokasikan untuk penanaman kembali bibit pohon menggeris,” ucapnya.
Produk-produk tersebut kini dipasarkan melalui toko skala rumahan di Samarinda serta platform digital. Kehadiran media sosial dan situs web membantu memperluas jangkauan pasar, sehingga pembeli dari berbagai daerah dapat mengenal produk kayu khas Kalimantan Timur.
Dengan inovasi dan strategi pemasaran yang tepat, UMKM berbasis kayu lokal membuktikan bahwa sumber daya daerah dapat diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Kreativitas, riset, dan komitmen terhadap keberlanjutan menjadi kunci agar karya lokal tidak hanya bertahan di pasar domestik, tetapi juga mampu bersaing di tingkat global.