Ekonomi Kaltim Tumbuh 4,53 Persen pada 2025, DJPb Ungkap Penyebabnya
- 06 Mar 2026 08:40 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Pertumbuhan ekonomi Kalimantan Timur sepanjang 2025 melambat dibanding capaian nasional. Kondisi ini dipicu oleh beberapa indikator.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (Kanwil DJPb) Kaltim, Edih Mulyadi, mengatakan ekonomi Kaltim secara kumulatif (c-to-c) hanya tumbuh 4,53 persen. Angka itu lebih rendah 0,58 persen dari pertumbuhan nasional.
“Di Kaltim sepertinya memang tumbuh lebih lambat dibanding nasional, karena hanya 4,53 persen secara c-to-c, sementara nasional 5,11 persen,” ujarnya, dalam konferensi pers di Kantor Kanwil DJPb Kaltim, Jumat 27 Maret 2026.
Sementara itu, secara tahunan (y-o-y), ekonomi Kaltim tercatat tumbuh 5,04 persen. Namun, Edih menilai capaian tersebut juga masih menunjukkan perlambatan dibanding periode sebelumnya.
Ia menyebut, salah satu penyebab utamanya adalah kontraksi di sektor pertambangan dan penggalian. Sebab, sektor ini menyumbang lebih dari 30 persen terhadap struktur ekonomi Kaltim.
“Kalau sektor dengan porsi besar mengalami perlambatan, dampaknya pasti signifikan terhadap keseluruhan ekonomi,” kata dia.
Selain itu, sektor konstruksi juga tidak seagresif tahun sebelumnya. Pada 2024, pembangunan IKN mendorong pertumbuhan konstruksi secara masif. Namun pada 2025, alokasi anggaran untuk IKN tidak lebih dari Rp14 triliun.
Struktur ekonomi Kaltim yang masih bergantung pada komoditas, lanjut Edih, juga ikut memengaruhi laju pertumbuhan. Ketika harga maupun volume komoditas menurun, dampaknya langsung terasa pada kinerja ekonomi daerah.
“Ekonomi Kaltim masih banyak bergantung pada komoditas. Saat harga dan kuantitasnya turun, tentu berpengaruh besar terhadap pertumbuhan,” ucapnya.
Di samping itu, tingkat inflasi atau kenaikan harga barang dan jasa turut mempengaruhi pertumbuhan ekonomi makro di Benua Etam.
Edih menjelaskan, secara bulanan harga-harga di Kaltim pada Januari 2026 naik tipis sekitar 0,04 persen dibanding Desember 2025. Sementara secara tahunan atau dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya, inflasi mencapai 3,76 persen.
"Kemudian sejak awal tahun hingga sekarang (y-t-d) terjadi inflasi sekitar 0,04 persen,” kata dia, melanjutkan.
Ia menambahkan, kenaikan harga tersebut dipengaruhi beberapa komoditas pangan. Di antaranya beras, cabai merah, cabai rawit, bawang merah, ikan segar, serta daging ayam ras.
Selain bahan pangan, kelompok transportasi juga ikut menyumbang inflasi, terutama pada angkutan udara.
Meski demikian, ada beberapa indikator ekonomi makro di Kalimantan Timur yang masih menunjukkan kinerja cukup baik. Salah satunya terlihat dari neraca perdagangan daerah yang mencatatkan surplus atau kondisi ketika nilai ekspor lebih besar dibanding impor.
“Pada Desember 2025 terjadi surplus yang sangat kuat, karena ekspor kita lebih dari 2.300 juta dolar AS, sedangkan impor hanya sekitar 600 juta dolar AS,” ujarnya.
Menurut Edih, perbandingan nilai ekspor dan impor Kaltim bahkan mencapai sekitar empat banding satu. Artinya, pendapatan dari ekspor jauh lebih besar dibanding pengeluaran untuk impor.
Kemudian pengeluaran per kapita masyarakat Kaltim di tahun 2025 juga menunjukkan kenaikan, dengan angka mencapai Rp14.254 ribu atau Rp14.254.000 per tahun.
"Data ini kalau kita perhatikan cukup bagus untuk nasional sebetulnya," ucapnya, mengakhiri.