Bank Indonesia Proyeksikan Ekonomi Kaltim 2026 Tumbuh 5 Persen
- 02 Mar 2026 06:42 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Bank Indonesia memproyeksikan perekonomian Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) pada 2026 akan tumbuh di kisaran 4,5 hingga 5,3 persen secara tahunan (year on year/yoy). Sektor minyak dan gas (migas) serta pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) disebut menjadi motor utama penggerak ekonomi daerah.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kaltim, Jajang Hermawan, menyampaikan bahwa pada triwulan IV-2025 ekonomi Kaltim mampu tumbuh 5,8 persen (yoy), meningkat signifikan dibandingkan triwulan III-2025 yang tercatat 4,26 persen.
“Secara keseluruhan, ekonomi Kaltim pada 2026 ditargetkan tumbuh di kisaran 4,5 hingga 5,3 persen yoy,” ujar Jajang dalam Temu Media di Samarinda, dilansir dari laman Pemprov Kaltim pada Senin, 2 Maret 2026.
Capaian tersebut memperkuat posisi Kaltim sebagai kontributor terbesar perekonomian regional Kalimantan dengan pangsa 46,02 persen. Disusul Kalimantan Barat sebesar 17 persen dan Kalimantan Selatan 15,77 persen.
Menurutnya, dinamika global masih memengaruhi harga komoditas unggulan seperti batu bara dan aktivitas perdagangan. Namun, pembangunan IKN menjadi katalisator kuat, khususnya bagi sektor konstruksi dan investasi.
Di sektor industri pengolahan, stabilitas tetap terjaga berkat dukungan migas dan ekspansi industri swasta. Peningkatan kapasitas kilang diproyeksikan mampu menambah produksi hingga 50 ribu barel per hari pada triwulan III-2026.
Selain itu, eksplorasi sumur gas yang dimulai sejak akhir 2025 diperkirakan mendorong kenaikan produksi industri turunan migas secara signifikan sepanjang 2026.
Secara nasional, Bank Indonesia mencatat regional Kalimantan menyumbang 8,12 persen terhadap total perekonomian Indonesia pada 2025. Memasuki 2026, tren penguatan diproyeksikan berlanjut melalui bauran kebijakan moneter, makroprudensial, serta percepatan digitalisasi sistem pembayaran.
“Bank Indonesia terus bersinergi dengan kebijakan fiskal pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang diproyeksikan berada di kisaran 4,9 hingga 5,7 persen,” katanya.
Meski prospek pertumbuhan positif, tekanan inflasi tetap menjadi perhatian. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau tercatat sebagai penyumbang utama inflasi di Kaltim tahun ini, disusul kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga pada Januari 2026.
Dengan kombinasi dorongan sektor migas, pembangunan IKN, dan penguatan kebijakan ekonomi, Kaltim diyakini tetap menjadi lokomotif pertumbuhan regional Kalimantan sepanjang 2026.