Pelemahan Rupiah Tertekan Rendahnya Serapan Lelang SBN
- 04 Feb 2026 20:07 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Nilai tukar Rupiah mengalami tekanan terhadap Dolar AS akibat rendahnya minat investor pada lelang Surat Utang Negara (SUN). Kondisi ini tercermin dari penurunan 'bid-to-cover ratio' yang dilaporkan Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan.
Peneliti ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad, mengungkapkan penyebab rendahnya minat tersebut. Menurutnya, investor saat ini cenderung bersikap 'wait and see' akibat ketidakpastian kebijakan fiskal global yang sedang berlangsung.
Rendahnya serapan lelang ini berdampak langsung pada berkurangnya aliran modal masuk atau 'capital inflow' ke pasar domestik. Hal tersebut secara otomatis membatasi dukungan terhadap kekuatan otot Rupiah di tengah penguatan mata uang asing.
Bank Indonesia (BI) dalam Laporan Tinjauan Kebijakan Moneter menyebutkan tekanan pasar obligasi berkaitan dengan kenaikan imbal hasil US Treasury. Fenomena ini menyebabkan aset berdenominasi Rupiah menjadi kurang kompetitif dibandingkan aset keuangan dari negara maju.
Sentimen global juga diperparah oleh kokohnya Indeks Dolar (DXY) di level 103 hingga 104 berdasarkan data Bloomberg Terminal. Pejabat Federal Reserve (The Fed) dilaporkan masih bersikap 'hawkish' dengan menahan suku bunga tinggi lebih lama.
Laporan International Energy Agency (IEA) turut menyoroti dampak eskalasi ketegangan geopolitik di wilayah Timur Tengah. Sebagai negara importir minyak neto, kenaikan harga energi dunia memberikan beban tambahan bagi neraca pembayaran Indonesia.
Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat adanya aksi jual bersih atau 'net sell' oleh investor asing di pasar reguler. Head of Research Samuel Sekuritas, Prasetya Gunadi, menjelaskan aliran keluar modal terjadi karena penyesuaian bobot indeks global.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menegaskan pihaknya terus melakukan strategi 'Triple Intervention' untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Intervensi dilakukan secara konsisten pada pasar spot, pasar 'Domestic Non-Deliverable Forward', dan pasar obligasi.
Pihak otoritas moneter menekankan bahwa pelemahan nilai tukar ini bersifat jangka pendek akibat tingginya volatilitas pasar global. BI memastikan fundamental ekonomi nasional, termasuk inflasi dan pertumbuhan PDB, tetap terjaga dalam sasaran yang ditetapkan