Pecahkan Rekor MURI, Kopi Liberika IKN Tembus Pasar Global
- 12 Okt 2025 14:16 WIB
- Samarinda
KBRN, Nusantara: Suasana hangat terasa di tepi daerah aliran sungai Sanggai, Kawasan Inti Pusat Pemerintahan Ibu Kota Nusantara (KIPP IKN) Jumat sore 10 Oktober 2025. Ratusan orang dari berbagai latar belakang tampak berbaur, menggenggam cangkul dan bibit kopi di tangan.
Di tengah teriknya matahari, mereka bersama-sama menanam harapan. Kopi Liberika, simbol semangat baru bagi ekonomi hijau Nusantara. Aksi kolaboratif ini tidak hanya meninggalkan jejak hijau di lahan IKN, tetapi juga catatan sejarah baru.
Sebanyak 1010 pohon kopi Liberika berhasil ditanam dengan peserta sebanyak 1486. Capaian ini pun mencatat rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai kegiatan penanaman kopi Liberika dengan peserta terbanyak.
“Dengan penuh rasa syukur kita bersama-sama mencatatkan rekor MURI untuk penanaman pohon kopi liberika oleh peserta terbanyak. Semoga capaian ini menjadi langkah awal dari upaya panjang kita dalam menjaga bumi dan memperkuat jati diri Indonesia sebagai bangsa yang mencintai alamnya,” ucap Wakil Direktur MURI, Osmar Semesta Susilo, saat mengumumkan capaian luar biasa tersebut.

Kepala OIKN, didampingi Deputi Lingkungan Hidup dan SDA, menerima penghargaan dari MURI untuk penanaman kopi liberika dengan peserta terbanyak. Foto: RRI IKN/Andreas.
Penghargaan itu diterima langsung oleh Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimulojono. Namun dengan rendah hati Basuki justru menyerahkan piagam MURI tersebut kepada Asosiasi Petani Kopi Liberika Sepaku sebagai bentuk apresiasi terhadap semangat para petani lokal.
“Mudah-mudahan memberi semangat pada komunitas kopi Liberika,” kata Basuki sembari memberikan piagam kepada Slamet Prayoga, sang profesor kopi Liberika Sepaku.
BACA JUGA:
Otorita IKN Angkat Kopi Liberica ke Panggung Nasional
Basuki menyebut saat ini baru sekitar 17 hektare lahan kopi yang produktif dari target 2000 hektar yang akan dikembangkan di kawasan IKN. Menurutnya, kopi liberika memiliki potensi besar karena mampu tumbuh baik di lahan gambut dan dataran rendah seperti Sepaku. Potensi juga sangat besar, bahkan sudah ada permintaan dari beberapa negara seperti Qatar yang berminat mengimpor hingga 20 kontainer.
“Saya kira kalau dengan 2000 hektare kita bisa produktif, ini pasti bisa menjadi ikon Kaltim sebagai produk ekspor. Kalau sekarang dengan 17 hektare produktif diminta oleh Qatar 20 kontainer enggak mampu, baru bisa mensuplai 30%-nya. Jadi sangat besar peluang ekonomi untuk Liberika ini,” ujarnya.
BACA JUGA:
Kopi Liberika Sepaku: Asa Baru Petani IKN
Kopi Liberika Siap Bangkit Jadi Komoditas Unggulan Kaltim
Basuki bilang, rasa dan aroma kopi Liberika juga tak kalah saing dengan kopi robusta atau arabika yang sudah mendunia. Sebagai pecinta kopi, Basuki juga berjanji akan memberi ruang khusus bagi produk kopi Liberika di kawasan pusat pemerintahan IKN.
“Jangankan ke Qatar, nanti di IKN akan ada offtaker-nya yang khusus saya datangkan hari ini dari Jakarta. Jadi saya kira kalau kita konsisten begitu mudah-mudahan dan kita harapkan Liberika ke depan menjadi salah satu produk unggulan di Kalimantan Timur. Dan ini pasti meng-create banyak lapangan kerja,” katanya.

Sementara itu, Bank Indonesia turut ambil peran dalam membina petani Kopi Liberika di Sepaku. Melalui pendampingan dan pelatihan, BI bersama OIKN berupaya membangun rantai nilai ekonomi dari hulu ke hilir, mulai dari petani hingga pelaku UMKM.
Kepala Sekretariat Kerjasama Bank Indonesia Nusantara, Wahyu Indra Sukma menjelaskan langkah ini bukan proyek jangka pendek melainkan investasi sosial ekonomi berkelanjutan.
“Harapan kami kita selalu kolaborasi, kami Bank Indonesia selalu siap untuk mendukung masyarakat di IKN termasuk di Sepaku untuk sama-sama mengembangkan kopi ini. Ini baru awal di sisi hulunya, kami juga sering mengembangkan kopi ya dan nanti dari sisi hilirnya juga,” ucap Wahyu memberi motivasi.
Semangat yang sama juga disampaikan ketua kelompok tani Liberika Sepaku, Sugiman. Menurutnya kopi Liberika sudah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan kini mulai kembali bersinar.
Nilai ekonomi kopi liberika disebut bisa menyaingi bahkan melampai komoditas lain seperti kelapa sawit. Hal itulah yang mendorong para petani kopi kian gencar melakukan ekspansi.
“Kenapa kami pilih liberika? Liberika itu ibaratnya tahan banting, segala medan dia susah mati. Jadi kalau cuaca panas dia mampu tahan, tidak ada penyakit. Dan produknya bersaing dengan robusta atau arabica. Secara ekonomi jauh, bahkan dengan kelapa sawit. Liberika ini juga peninggalan nenek moyang kami tahun 1980, bapak-bapak kami sudah menanam,” ucap Sugiman penuh semangat.

Kegiatan ini menjadi simbol kolaborasi lintas sektor, mulai dari Kementerian Pertanian, Pemda Kutai Kartenegara dan PPU, Universitas Mulawarman, Politeknik Pertanian Negeri Samarinda hingga komunitas petani dan pelajar SMK Negeri 1 PPU. Dukungan juga datang dari berbagai mitra seperti Pupuk Kaltim, Bakul Bambu, selera nikmat Nusantara, dan Kampung Kecil.
Bagi warga Sepaku, kopi Liberika bukan sekedar tanaman. Ia adalah warisan, sumber penghidupan, dan lambang ketekunan. Sementara bagi otorita IKN, ini adalah bukti nyata bahwa pembangunan Nusantara dapat tumbuh seiring alam dan masyarakatnya.
Kopi Liberika yang dulu hanya dikenal sebagai Kopi Rawa kini sedang menapaki jalan panjang menuju panggung dunia. Dari tepi gambut Nusantara untuk cita rasa dan masa depan yang lebih hijau.