Kopi Liberika Siap Bangkit Jadi Komoditas Unggulan Kaltim
- 05 Okt 2025 11:22 WIB
- Samarinda
KBRN, Samarinda: Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kalimantan Timur turut ambil bagian dalam BINGKA KALTIM Seri 9 yang mengangkat tema “Menggali Potensi Kopi Liberika di Kaltim”. Acara ini digelar oleh Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Timur, bertepatan dengan peringatan Hari Kopi Sedunia di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN), Rabu (1/10/2025)
Kegiatan ini resmi dibuka oleh Setia Lenggono, Direktur Ketahanan Pangan Deputi Bidang Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Otorita IKN. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya mengangkat kopi sebagai komoditas strategis yang memiliki nilai ekonomi sekaligus sejalan dengan upaya pelestarian lingkungan.
Salah satu narasumber, Slamet Prayoga, petani kopi yang konsisten mengembangkan Liberika, menjelaskan bahwa jenis kopi ini sangat sesuai dengan kondisi lahan di Kalimantan Timur. Menurutnya, walaupun popularitasnya masih di bawah Arabika dan Robusta, namun Liberika terbukti lebih mudah tumbuh dan berproduksi dengan baik di tanah Kalimantan.
Slamet menambahkan, kopi Liberika sejatinya sudah lama dikenal di daerah ini. Sejak tahun 1977, kopi tersebut mulai dibudidayakan di Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), yang kini termasuk dalam kawasan IKN. Hal ini membuktikan bahwa Liberika bukan komoditas baru, melainkan warisan pertanian yang perlu dibangkitkan kembali.
Dari sisi industri kopi, Muhammad Nasaruddin Hamid dari Asosiasi Café & Barista Kaltim menyampaikan bahwa Liberika bisa dijadikan sebagai kopi unggulan khas daerah. Dengan potensi yang ada, ia optimistis Liberika dapat menjadi ikon kopi Kaltim, apalagi bila dikaitkan dengan branding IKN yang kini menjadi pusat perhatian nasional.
Pada sesi diskusi, Kepala BRMP Kaltim, Akmad Hamdan, menyoroti pentingnya pendaftaran varietas kopi Liberika dalam kategori Indikasi Geografis. Langkah ini dinilai strategis agar kopi Liberika memiliki pengakuan resmi, sehingga lebih dikenal luas dan memiliki nilai jual lebih tinggi di pasar.
Selain itu, ia juga mendorong adanya sertifikasi bibit untuk memudahkan pengembangan budidaya di tingkat petani. Menurut Akmad, upaya tersebut perlu diiringi dengan penguatan kelembagaan petani kopi serta peningkatan kapasitas SDM petani, baik dalam aspek budidaya maupun agribisnis.
“Kopi Liberika bukan hanya soal komoditas, tetapi juga soal pemberdayaan petani dan peningkatan daya saing daerah. Dengan dukungan kelembagaan yang kuat, hasilnya bisa lebih optimal,” ujar Akhmad Hamdan. Ia menekankan perlunya sinergi antara pemerintah, petani, pelaku usaha, dan komunitas kopi di Kaltim.
Acara ditutup oleh Taufiq Kurrahman, Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Dinas Perkebunan Kaltim. Dalam penutupannya, ia mengingatkan bahwa kopi Liberika sesungguhnya sudah lama ada di Kaltim, namun kurang mendapat perhatian. “Sekarang saatnya kita bangkitkan lagi dan jadikan Liberika sebagai salah satu komoditas unggulan IKN. Untuk itu, kerja sama seluruh pihak mutlak diperlukan,” katanya.
Dengan momentum peringatan Hari Kopi Sedunia, kehadiran BINGKA KALTIM Seri 9 diharapkan menjadi titik balik kebangkitan kopi Liberika. Melalui kolaborasi dan penguatan dari hulu hingga hilir, kopi khas Bumi Etam ini berpotensi menjadi kebanggaan baru Kalimantan Timur sekaligus memperkaya khazanah kopi nusantara di mata dunia.