Garam Kusamba Bukan Garam Biasa
- 19 Apr 2024 10:30 WIB
- Samarinda
KBRN, Samarinda : Garam ternyata bukan hanya sekedar pemberi rasa, garam juga menjadi bagian proses warisan budaya.
Masyarakat yang bermukim di Pantai Kusamba Bali telah bertani garam organik ini sejak abad ke 17. Melansir dari Greenpeace, petani garam Kusamba memanfaatkan sinar matahari yang terik dan angin laut yang sejuk untuk menguapkan air laut sehingga meninggalkan kristal garam yang siap diambil.
Pembuatan garam tradisional dengan teknik penguapan sinar matahari ini, jika ditinjau dari tradisi maritim, dapat dikategorikan sebagai warisan budaya maritim.
Produk garam asli Kusamba menggunakan teknik yang unik ini disebut sebagai garam laut. Teknik ini berbeda dengan produksi garam di daerah lain, disebut garam laut karena garam dihasilkan dari penguapan sinar matahari.
Itulah mengapa, di Kusamba garam bukan sekadar komoditas, bukan sekadar bahan dapur, tetapi juga bagian dari identitas masyarakat Kusamba.
Garam kusamba berkhasiat untuk kesehatan tubuh, antara lain terhindar dari resiko kerusakan pembuluh darah, lemah jantung, osteoporosis, dll.
Melati, sudah 4 tahun belakangan menggunakan garam Kusamba. Menurutnya ini menjadi upaya menjalani gaya hidup yang lebih sehat.
“ Kembali ke konsumsi bahan – bahan alami termasuk dalam penggunaan garam dengan lebih memilih garam organik, upaya kecil menuju hidup lebih sehat, “ ujar Melati.
Tidak hanya menjadi garam rumahan, garam Kusamba juga menjadi pilihan para chef restoran untuk menambahkan cita rasa masakannya bahkan juga bisa digunakan sebagai scrub tubuh saat mandi.
Garam Kusamba bukan sekadar pengganti garam dapur biasa.