Rudenim Balikpapan Berdayakan Deteni Melalui Ketahanan Pangan Humanis

  • 06 Jan 2026 09:29 WIB
  •  Samarinda

KBRN, Samarinda: Program inovatif eco-rudenim menjadi sorotan dalam dialog khusus yang disiarkan oleh Pro1 RRI Samarinda, dengan tema optimalisasi pemberdayaan deteni melalui ketahanan pangan yang humanis dan ramah lingkungan di Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Balikpapan.

Inisiatif tersebut dinilai relevan karena tidak hanya menitikberatkan pada aspek penegakan hukum keimigrasian, tetapi juga pada peningkatan kualitas hidup deteni selama menjalani masa detensi. Seperti disampaikan Kepala Seksi Keamanan dan Ketertiban Rudenim Balikpapan, Djaloe Wisanggeni, dikutip dari laman youtube RRI Samarinda, Selasa (6/1/2026).

Ia menjelaskan, rumah detensi imigrasi memiliki tanggung jawab kemanusiaan yang besar. “Rudenim tidak hanya menjalankan fungsi pengawasan dan pendetensian, tetapi juga harus memenuhi hak-hak dasar deteni, salah satunya pemenuhan pangan yang layak, aman, dan berkelanjutan,” ujarnya.

Pernyataan ini menegaskan, pendekatan humanis menjadi fondasi utama dalam pelaksanaan tugas keimigrasian. Lebih lanjut, Djaloe mengungkapkan eco-rudenim hadir sebagai jawaban atas kebutuhan tersebut. Program ini dirancang sebagai model ketahanan pangan yang melibatkan deteni secara aktif, sekaligus menjadi sarana pembinaan mental dan sosial. Dengan memanfaatkan konsep ramah lingkungan, Ekorudenim juga mendukung pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan di lingkungan Rudenim Balikpapan.

Sementara itu, Kepala Subseksi Administrasi dan Pelaporan Rudenim Balikpapan, Henri Suhendra, memaparkan latar belakang lahirnya inovasi tersebut. Rudenim Balikpapan memiliki lahan yang cukup luas dan sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal. “Kondisi ini kemudian mendorong pimpinan Rudenim untuk menginisiasi program yang produktif dan bermanfaat bagi deteni,” kata Henri.

Lebih lanjut ia menjelaskan, sebelum adanya Ekorudenim, sebagian besar deteni menjalani aktivitas yang monoton dan pasif. “Sekitar 60 persen deteni hanya melakukan kegiatan rutin seperti makan dan tidur, sehingga berpotensi menimbulkan stres. Oleh karena itu, program eco-rudenim diharapkan mampu menjadi wadah kegiatan positif yang membangun,” ujarnya.

Melalui keterlibatan langsung dalam pengelolaan ketahanan pangan, deteni memperoleh pengalaman baru yang bernilai edukatif. Djaloe menjelaskan, perubahan perilaku mulai terlihat setelah program berjalan. Deteni menjadi lebih aktif, memiliki rasa tanggung jawab, serta menunjukkan penurunan tingkat kejenuhan dan stres selama menunggu proses pemulangan ke negara asal.

Selain berdampak pada individu deteni, program eco-rudenim juga membawa perubahan pada dinamika sosial di dalam Rudenim. “Kegiatan bersama mampu menekan potensi konflik antar deteni yang berasal dari latar belakang budaya dan negara berbeda. Interaksi yang lebih terarah menjadikan suasana rumah detensi lebih kondusif dan harmonis,” ucap Henri menambahkan.

Tidak hanya itu, hubungan antara petugas dan deteni pun mengalami peningkatan. Komunikasi yang sebelumnya terbatas kini menjadi lebih terbuka dan humanis. Hal ini membuktikan bahwa pendekatan pemberdayaan melalui ketahanan pangan mampu memperkuat kepercayaan dan kerja sama di lingkungan Rudenim Balikpapan,” kata Djaloe.

Secara keseluruhan, Program eco-rudenim menjadi contoh nyata inovasi pelayanan publik yang mengedepankan nilai kemanusiaan. Dengan mengintegrasikan aspek ketahanan pangan, pemberdayaan, dan pembinaan sosial, Rudenim Balikpapan menunjukkan komitmen dalam meningkatkan kualitas hidup deteni secara berkelanjutan dan bermartabat.

Rekomendasi Berita