Tanoto Foundation Cetak Pemimpin Muda Lewat Fellowship Program

  • 01 Sep 2025 11:27 WIB
  •  Samarinda

KBRN, Samarinda: Indonesia masih menghadapi tantangan serius dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Berdasarkan laporan Human Capital Index (HCI) Bank Dunia tahun 2020, skor Indonesia hanya 0,54. Artinya, seorang anak yang lahir di Indonesia saat ini diperkirakan hanya dapat mencapai 54 persen dari potensi produktivitasnya pada kondisi ideal.

Angka ini jauh di bawah sejumlah negara di Asia. Sebagai perbandingan, Thailand mencatat skor 0,61 dan Malaysia 0,62. Kondisi tersebut menunjukkan masih adanya kesenjangan mendasar, seperti kualitas pendidikan dasar yang belum merata, gizi anak yang rendah, serta keterbatasan sistem kesehatan. Jika terus dibiarkan, anak-anak Indonesia berisiko kehilangan potensi besar dalam keterampilan, kesehatan, dan produktivitas. Pada akhirnya, Indonesia akan kesulitan memanfaatkan bonus demografi dan berisiko tertinggal dalam persaingan global.

Melalui Visi Indonesia Emas 2045, pemerintah menargetkan peningkatan signifikan kualitas modal manusia agar generasi muda mampu bersaing dengan negara berpendapatan tinggi. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045, HCI Indonesia ditargetkan naik menjadi 0,73. Namun, untuk mencapainya dibutuhkan investasi jangka panjang dan strategi terobosan, tidak hanya di level kebijakan makro, tetapi juga melalui pencetakan aktor-aktor pembangunan muda yang dapat bekerja langsung di lapangan.

Menjawab kebutuhan itu, Tanoto Foundation, organisasi filantropi independen di bidang pendidikan yang didirikan oleh Sukanto Tanoto dan Tinah Bingei Tanoto pada 1981, meluncurkan Tanoto Foundation Fellowship Program pada 2024. Program ini menyiapkan generasi muda untuk menjadi pemimpin perubahan di bidang pendidikan dan pembangunan. Dari ribuan pendaftar, sembilan orang terpilih sebagai angkatan pertama Tanoto Fellows.

Pada Kamis (28/8/2025) di Jakarta, Tanoto Foundation resmi meluluskan sembilan Tanoto Fellows angkatan perdana tersebut. Selama satu tahun, mereka terlibat dalam berbagai program, mulai dari pendidikan anak usia dini, peningkatan literasi-numerasi, hingga pengembangan soft skill di pendidikan tinggi di daerah mitra Tanoto Foundation, yakni Sumatra Utara, Jawa Tengah, dan Kalimantan.

“Sejak orang tua saya mendirikan Tanoto Foundation pada 1981, kami telah berkembang dari membangun sekolah dasar di Besitang, Sumatra Utara, hingga mendampingi ratusan sekolah dan mendorong perubahan sistem. Namun, kami melihat masih ada kekurangan talenta yang memiliki misi, berpikir holistik, dan mampu memimpin. Melalui Fellowship ini, kami ingin menumbuhkan generasi pemimpin baru yang tidak hanya berkapabilitas, tetapi juga memiliki tujuan kuat serta berkomitmen memahami isu-isu akar rumput dan melayani komunitasnya,” ujar Belinda Tanoto, Anggota Dewan Wali Amanat Tanoto Foundation.

Pada kesempatan yang sama, Tanoto Foundation juga mengukuhkan 10 Tanoto Fellows angkatan 2025. Mereka terpilih dari lebih dari 1.300 pendaftar dan akan menjalani program selama satu tahun penuh. Para fellows berasal dari latar belakang pendidikan dan pengalaman beragam, mulai dari konservasi laut, ekonomi-politik, pendidikan inklusif, advokasi pemuda, hingga solusi iklim.

Belinda menekankan pentingnya kepemimpinan yang utuh. “Selain menguasai sains dan teknologi untuk menciptakan dampak besar, para fellow juga perlu membangun kualitas kepemimpinan yang rendah hati, memiliki visi jelas, dan berempati untuk memahami perasaan serta sudut pandang orang lain,” ucapnya.

Acara bertajuk Legacy in Motion: Celebrating the Tanoto Foundation Fellowship Journey ini berlangsung di Tanoto Foundation Impact Gallery, Jakarta. Hadir sejumlah mitra pembangunan, di antaranya Kepala Badan Pusat Statistik Amalia Adininggar Widyasanti dan Presiden Direktur Amartha Foundation Aria Widyanto.

“Saya berharap Tanoto Fellows, baik yang lulus maupun yang baru bergabung, dapat selalu berpikir berdasarkan data dan fakta. Jangan terburu-buru menarik kesimpulan sebelum mengujinya. Dengan kebiasaan riset dan analisis, kita bisa mengambil keputusan lebih tepat,” kata Amalia.

Sementara itu, Aria berpesan agar fellows tidak lupa dengan asal-usul dan desa-desa yang masih membutuhkan pembangunan. “Sebagai contoh, Amartha Foundation fokus pada pendidikan di desa. Banyak anak yang kami dukung menjadi sarjana pertama di kampungnya. Itu menjadi semangat untuk melahirkan changemaker yang kembali membangun desanya. Setuju dengan pesan Ibu Belinda, kita butuh lebih banyak anak berprestasi yang mau pulang dan berkontribusi,” ucap Aria.

Tanoto Foundation Fellowship Program sendiri mengusung metode experiential learning dengan lima tahap pembelajaran, mulai dari orientasi, pengenalan ekosistem, mendesain inisiatif, implementasi, hingga refleksi akhir. Para fellows juga mendapat pendampingan berupa coaching, mentoring, hingga refleksi kritis. Setelah lulus, mereka tergabung dalam Tanoto Fellows Network sebagai wadah kolaborasi berkelanjutan.

“Para fellow menunjukkan bahwa transformasi dimulai dari dalam diri, lalu meluas ke masyarakat. Ini adalah perjalanan untuk membentuk pemimpin yang rendah hati, tangguh, dan visioner. Tanoto Fellows adalah warisan yang terus hidup dalam setiap langkahnya,” ujar Belinda.

Rekomendasi Berita