Taman I Love Sabang Jadi Tempat Singgah Wisatawan

  • 31 Agt 2026 21:54 WIB
  •  Sabang

RRI.CO.ID, Sabang - Tidak semua perjalanan wisata di Sabang harus berakhir di pantai atau bawah laut. Di kawasan Cot Ba'u, wisatawan dapat berhenti sejenak di Taman I Love Sabang sambil menikmati panorama kota dari ketinggian.

Landmark bertuliskan “I Love Sabang” menjadi penanda kawasan sekaligus salah satu ruang publik yang kerap disinggahi warga dan wisatawan. Dari lokasi tersebut, pengunjung dapat menikmati pemandangan Kota Sabang, laut, perbukitan, hingga sebagian kawasan Danau Aneuk Laot.

Lokasinya yang berada di jalur menuju pusat Kota Sabang dan tidak jauh dari Pelabuhan Balohan membuat taman tersebut cukup mudah dijangkau wisatawan. Pengunjung dapat menjadikannya sebagai tempat beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke berbagai destinasi di Pulau Weh.

Pada sore hari, suasana kawasan terasa lebih ramai. Warga datang untuk duduk santai, menikmati udara yang lebih sejuk atau sekadar menghabiskan waktu sambil melihat panorama dari ketinggian.

Hendra, warga Sabang, mengatakan Taman I Love Sabang menjadi salah satu lokasi yang menarik untuk menikmati suasana sore.

“Taman ini menawarkan pemandangan yang indah dan suasana yang nyaman untuk bersantai. Banyak warga datang pada sore hari untuk menikmati udara segar,” kata Hendra, Senin 31 Agustus 2026.

Menurutnya, panorama menjadi salah satu daya tarik utama kawasan tersebut. Ketika cuaca cerah, pengunjung dapat melihat bentang Kota Sabang dan kawasan perairan dari sejumlah titik.

Daya tarik tersebut juga dirasakan wisatawan dari luar daerah. Rahmat, wisatawan asal Lhokseumawe, mengatakan dirinya menyempatkan diri berkunjung setelah mendapat rekomendasi mengenai lokasi tersebut.

“Tempatnya bagus. Dari sini kita bisa melihat Sabang dari ketinggian. Spot fotonya juga menarik, terutama saat menjelang matahari terbenam,” ujarnya.

Tidak hanya menawarkan panorama, kawasan Taman I Love Sabang juga memiliki pilihan kuliner yang dapat memperpanjang pengalaman pengunjung. Salah satunya masakan bebek Aceh dengan cita rasa khas daerah.

Menariknya, bahan baku bebek yang digunakan berasal dari hasil budidaya BUMG gampong setempat. Kondisi tersebut membuat aktivitas wisata di kawasan ini memiliki keterkaitan langsung dengan potensi ekonomi masyarakat.

Bebek yang dibudidayakan masyarakat tidak berhenti sebagai produk peternakan. Komoditas tersebut dapat masuk ke dalam rantai ekonomi pariwisata melalui proses pengolahan dan penyajian menjadi kuliner yang dinikmati wisatawan.

Keterkaitan tersebut menjadi peluang untuk membangun konsep wisata yang tidak hanya mengandalkan pemandangan. Produk masyarakat dapat menjadi bagian dari pengalaman wisata sekaligus membuka ruang ekonomi baru di sekitar destinasi.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Sabang, Harry Susethia, mengatakan keberadaan Tugu I Love Sabang menjadi salah satu upaya menambah ikon dan ruang publik yang dapat dinikmati masyarakat maupun wisatawan.

“Tugu ini merupakan salah satu upaya untuk menambah ikon pariwisata Sabang. Selain Tugu Nol Kilometer dan Pantai Iboih, Sabang juga memiliki ruang publik yang dapat dinikmati wisatawan untuk melihat panorama kota,” kata Harry.

Menurutnya, keberadaan ruang publik tersebut dapat melengkapi pilihan aktivitas wisatawan selama berada di Sabang. Wisatawan tidak hanya diarahkan mengunjungi destinasi utama, tetapi juga dapat menikmati ruang-ruang publik yang berada di jalur perjalanan mereka.

Kawasan tersebut juga diarahkan sebagai ruang publik dengan konsep ASRI, yakni Aman, Sehat, Rapi, dan Indah. Konsep tersebut membutuhkan perhatian terhadap fasilitas sekaligus kebersihan dan pemeliharaan kawasan.

Sejumlah pengunjung berharap penataan taman terus ditingkatkan agar daya tarik panoramanya tetap terjaga. Vegetasi yang tumbuh terlalu tinggi, misalnya, perlu dirawat agar tidak menutup pandangan pengunjung.

Penataan tersebut perlu dilakukan secara seimbang dengan tetap mempertahankan fungsi tanaman sebagai bagian dari penghijauan kawasan. Panorama menjadi daya tarik utama sehingga ruang pandang pengunjung juga perlu diperhatikan.

Di sisi lain, keberadaan kuliner lokal dapat terus dikembangkan sebagai bagian dari pengalaman wisata. Wisatawan yang datang untuk menikmati panorama memiliki pilihan untuk mencicipi makanan khas sekaligus mengenal produk masyarakat setempat.

Jika dikelola secara berkelanjutan, perpaduan antara ruang publik, panorama dan kuliner lokal dapat membuat Taman I Love Sabang memiliki fungsi yang lebih luas.

Kawasan ini bukan hanya tempat untuk mengambil foto di depan tulisan “I Love Sabang”. Lebih dari itu, taman tersebut dapat menjadi titik singgah yang mempertemukan wisatawan dengan panorama Kota Sabang sekaligus produk ekonomi masyarakat.

Bagi wisatawan, perjalanan menuju destinasi utama terkadang membutuhkan jeda. Di Taman I Love Sabang, jeda itu dapat diisi dengan menikmati udara sore, melihat bentang Pulau Weh dari ketinggian, mencicipi kuliner khas dan membawa pulang pengalaman dari sisi lain Kota Sabang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....