Jejak Belanda hingga Jepang di Benteng Batere A Sabang
- 23 Agt 2026 00:24 WIB
- Sabang
RRI.CO.ID, Sabang - Benteng Batere A di Gampong Cot Ba'u, Kota Sabang, menyimpan jejak sejarah pertahanan sejak masa kolonial Belanda hingga pendudukan Jepang. Sejumlah peninggalan di dalam kompleks benteng masih dapat ditemukan, termasuk lukisan yang dibuat seorang tentara Jepang saat menjalani penahanan.
Wakil Ketua DPRK Sabang sekaligus Ketua Sabang Heritage Society, Albina Arrahman, mengungkap sejarah tersebut saat menghadiri Festival Budaya Lokal Gampong Cot Ba'u 2026 di kawasan Benteng Batere A, Sabang, Sabtu 22 Agustus 2026.
Menurut Albina, nama asli situs tersebut adalah Benteng Batere A. Sebutan Benteng Meteo yang lebih dikenal masyarakat muncul setelah kawasan itu dimanfaatkan untuk fasilitas meteorologi pada era 1960-an.
“Benteng ini disebut Benteng Batere A. Batere B ada satu lagi di Krueng Raya, sedangkan Batere C itu gudang pelor. Jadi ada tiga benteng yang dibangun pada zaman Belanda,” kata Albina.
Ia menjelaskan Benteng Batere A merupakan bagian dari sistem pertahanan yang dibangun pemerintah kolonial Belanda di Sabang. Salah satu fungsi awal bangunan tersebut adalah sebagai tempat penahanan tentara yang melakukan pelanggaran disiplin.
Ketika Jepang menduduki Sabang pada 1942, fungsi kawasan kemudian berlanjut sebagai tempat penahanan bagi tentara Jepang yang dianggap melakukan pelanggaran disiplin. Pada periode tersebut, Jepang juga memodifikasi dan menambah sejumlah fasilitas pertahanan di sekitar benteng.
Menurut Albina, kompleks Benteng Batere A pada masa itu tidak berdiri sendiri. Kawasan tersebut terhubung dengan sejumlah fasilitas pendukung pertahanan, termasuk stasiun radio, gudang amunisi dan pos pengawasan yang tersebar hingga wilayah sekitar Gampong Cot Ba'u.
Salah satu peninggalan yang masih bertahan adalah lukisan di ruang tahanan. Albina menyebut lukisan tersebut dibuat oleh seorang tentara Jepang yang mengalami depresi ketika menjalani penahanan.
“Di dalam ruang tahanan ini masih ada lukisan yang original, dilukis oleh tentara Jepang yang ditahan karena mengalami depresi dan indisipliner. Dia melukis gambar dirinya dan istrinya yang dirinduinya di Tokyo,” ujarnya.
Lukisan tersebut diperkirakan telah berusia lebih dari delapan dekade. Albina mengingatkan masyarakat agar tidak menghapus, mencoret atau merusak peninggalan tersebut karena menjadi bukti autentik yang dapat memperkuat narasi sejarah kawasan.
Ia menilai keberadaan peninggalan sejarah yang masih autentik menjadi kekuatan utama Benteng Batere A untuk dikembangkan sebagai wisata heritage. Nilai sejarah tersebut juga berpadu dengan panorama Teluk Sabang yang dapat dinikmati dari kawasan benteng.
“Kalau jalannya sudah bagus, insya Allah ini jadi objek wisata unggulan karena pemandangannya bagus sekali,” katanya.
Albina mengatakan pengembangan wisata harus dilakukan dengan prinsip pelestarian. Pembangunan fasilitas pendukung, penataan taman dan peningkatan akses perlu diarahkan untuk memperkuat daya tarik kawasan tanpa mengubah karakter asli peninggalan sejarah.
Ia berharap pengembangan Benteng Batere A melibatkan pemerintah, masyarakat Gampong Cot Ba'u dan Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Aceh. Kolaborasi tersebut dinilai penting agar pemanfaatan kawasan tetap sejalan dengan upaya perlindungan cagar budaya.
Selain memiliki nilai sejarah, Albina menyebut Benteng Batere A memiliki hubungan kuat dengan kehidupan masyarakat Cot Ba'u. Kawasan tersebut dahulu menjadi ruang terbuka bagi warga, terutama anak-anak, untuk bermain dan berolahraga.
“Dulu kami sore main-main, tidak ada takut-takutnya. Main bola, main kasti, dan berbagai permainan lainnya. Mudah-mudahan nantinya bisa kembali menjadi tempat masyarakat bersosialisasi, bergembira dan bermain,” ujarnya.
Menurutnya, menghidupkan kembali fungsi sosial kawasan dapat berjalan bersama pengembangan wisata. Masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi dapat mengambil manfaat melalui usaha dan aktivitas ekonomi yang tumbuh dari kunjungan wisatawan.
Albina berharap pembukaan akses menuju Benteng Batere A menjadi langkah awal untuk menghidupkan kembali kawasan tersebut. Dengan tetap mempertahankan peninggalan sejarah, benteng dapat dikembangkan sebagai ruang edukasi, rekreasi dan wisata heritage yang memberi manfaat bagi masyarakat.
Ia menilai sejarah Benteng Batere A perlu terus dikenalkan kepada generasi muda agar peninggalan masa kolonial Belanda dan pendudukan Jepang di Sabang tidak berhenti sebagai bangunan tua. Narasi sejarah dan peninggalan autentik yang masih tersisa dapat menjadi bagian penting dalam memperkuat identitas serta daya tarik wisata Kota Sabang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....