Perubahan Iklim Ancam Ketahanan Pangan di Aceh
- 05 Sep 2026 13:33 WIB
- Sabang
RRI.CO.ID, Sabang - Perubahan iklim bukan lagi isu yang jauh dari realitas kehidupan sehari-hari. Dampaknya kian nyata dan langsung dirasakan oleh sektor-sektor krusial, mulai dari pertanian hingga perikanan. Cuaca ekstrem, pergeseran musim tanam, hingga gangguan rantai distribusi pangan menjadi tantangan bagi keberlanjutan pasokan pangan di daerah.
Founder & Executive Director Rumoh Pangan Aceh, Rivan Rinaldi , S.Pd.,M.Sc., mengatakan bahwa ketika suhu semakin tinggi, iklim ekstrem juga akan terjadi makin cepat. “Apalagi kita sekarang sedang menghadapi El Nino Godzila. Itu memang sangat mempengaruhi dan berdampak terutama terhadap ketahanan pangan dan lingkungan,” ujarnya dalam dialog “Krisis Iklim dan Ketahanan Pangan: Apa Yang Bisa Kita Lakukan” bersama Pro 1 Banda Aceh, Sabtu, 1 Agustus 2026.
Menurutnya, sektor pertanian dan perikanan menjadi dua sektor yang paling rentan terhadap perubahan suhu global. Musim kemarau panjang menyebakan gangguan pertumbuhan komoditas seperti cabai, jagung, hingga serai menguning dan rusak akibat kekurangan air.
Selain itu, bencana banjir di beberapa wilayah merusak akses transportasi, memutus jalur distribusi, dan memicu lonjakan harga bahan pokok di pasaran. “Di Banda Aceh sendiri contohnya, kita pernah mengalami dampak gangguan pasokan cabai akibat bencana banjir yang melanda sejumlah wilayah aceh dan Sumatera pada 2025 lalu,” lanjutnya.
Selanjutnya, kenaikan suhu air laut berdampak pada kerusakan terumbu karang. Kondisi ini memaksa populasi ikan berpindah ke perairan yang lebih dalam dan jauh dari pantai. Dampaknya, para nelayan memerlukan konsumsi BBM lebih banyak dan waktu melaut yang lebih lama untuk mendapatkan jumlah tangkapan yang sama.
Untuk menghadapi perubahan iklim dan menjaga pasokan pertanian, salah satu bentuk mitigasi yang ia sarankan bagi para petani dengan menerapkan sistem tumpang sari, yaitu menanam lebih dari satu jenis tanaman dalam satu lahan. Kemudian menanam komoditas yang memiliki daya tahan tinggi terhadap cuaca ekstrem, seperti kacang koro pedang.
Selain itu, upaya menjaga ketahanan pangan tidak hanya menjadi tugas petani dan pemerintah. Masyarakt juga dapat berkontribusi dengan membeli hasil tani dari produsen lokal serta tidak membuang-buang makanan (food waste).
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....