USK Dorong Hilirisasi Kelapa Jadi Produk Bernilai Ekonomi di Sabang
- 26 Agt 2026 15:05 WIB
- Sabang
RRI.CO.ID, Sabang - Universitas Syiah Kuala (USK) mendorong pemanfaatan potensi kelapa di Kota Sabang menjadi produk pangan bernilai tambah melalui penerapan teknologi pengolahan air kelapa tua menjadi kecap dan gula cair.
Teknologi hasil penelitian tersebut diterapkan kepada masyarakat Gampong Batee Shok, Kecamatan Sukamakmue, melalui KKN Tematik Program Pengabdian kepada Masyarakat Berbasis Produk Teknologi Tepat Guna (PKMBP-TTG) Tahun 2026.
Ketua tim pengabdian USK, Dr. Raida Agustina, S.TP., M.Sc., mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan hasil penelitian perguruan tinggi dapat dimanfaatkan secara langsung oleh masyarakat.
“Kami ingin hasil penelitian tidak hanya berhenti di kampus. Teknologi yang sudah dikaji harus bisa dibawa kepada masyarakat, dipraktikkan bersama, disederhanakan prosesnya, dan pada akhirnya dapat dikuasai oleh masyarakat sendiri,” ujar Raida Rabu 26 Agustus 2026.
Dosen Program Studi Teknik Pertanian, Fakultas Pertanian USK itu menjelaskan, kecap kelapa dan gula cair kelapa merupakan hasil pengembangan penelitian yang kemudian diterapkan melalui pelatihan dan praktik bersama masyarakat.
Menurutnya, pemanfaatan air kelapa tua membuka peluang diversifikasi produk sekaligus meningkatkan nilai ekonomi bahan baku yang tersedia di masyarakat.
Pendekatan tersebut membuat kelapa tidak hanya dipandang sebagai komoditas bahan mentah. Melalui pengolahan, sebagian hasil samping atau bahan baku yang belum dimanfaatkan secara optimal dapat dikembangkan menjadi produk pangan yang memiliki nilai jual.
Dalam penerapannya, USK menggandeng Rita Trisanti sebagai mitra utama bersama masyarakat Gampong Batee Shok. Rita sebelumnya telah mengembangkan usaha Virgin Coconut Oil atau VCO dan sejumlah produk turunan kelapa.
Rita mengatakan kegiatan tersebut memperluas pengetahuan masyarakat mengenai kemungkinan pengembangan usaha berbasis kelapa.
“Selama ini kami sudah mengenal pengolahan kelapa, tetapi melalui kegiatan ini kami belajar bahwa masih banyak produk lain yang bisa dikembangkan,” ujarnya.
Ia berharap keterampilan yang diperoleh tidak berhenti setelah pelatihan selesai, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk usaha masyarakat.
“Kalau prosesnya sudah bisa kami kuasai dan kualitas produknya terus diperbaiki, ini bisa menjadi peluang usaha baru bagi masyarakat,” katanya.
Tantangan berikutnya adalah memastikan produk hasil inovasi tersebut mampu masuk ke pasar. Kemampuan memproduksi menjadi tahap awal, sedangkan keberlanjutan usaha membutuhkan perhitungan bisnis yang lebih matang.
Anggota tim pengabdian USK, Dinaroe, S.E., MBA., Ak., CA., ASEAN CPA, mengatakan pengembangan produk harus diikuti dengan penguatan aspek bisnis.
“Tantangannya bukan hanya bagaimana masyarakat bisa membuat kecap atau gula cair kelapa. Tahap berikutnya adalah bagaimana produk itu memiliki kualitas yang konsisten, dapat dihitung biaya produksinya, dikemas secara menarik, diberi harga secara tepat, dan akhirnya memiliki pasar,” kata Dinaroe.
Dosen Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis USK itu menyebut pendampingan lanjutan perlu mencakup penghitungan biaya produksi, penentuan harga jual, pengemasan, legalitas, penguatan merek hingga pemasaran.
Aspek tersebut menjadi penting agar teknologi tepat guna tidak berhenti sebagai keterampilan baru yang diperoleh masyarakat, tetapi berkembang menjadi aktivitas ekonomi yang dapat berlangsung secara mandiri.
Keuchik Gampong Batee Shok, Ridwan Nasution, menyambut baik penerapan teknologi tersebut. Ia berharap pengetahuan yang diberikan perguruan tinggi tetap dapat dimanfaatkan masyarakat setelah program pengabdian berakhir.
“Kami menyambut baik kegiatan seperti ini karena masyarakat memperoleh ilmu dan pengalaman baru. Yang paling penting bagi kami adalah setelah tim dari kampus selesai melaksanakan kegiatan, pengetahuan yang diberikan tetap tinggal dan bisa terus dipraktikkan oleh masyarakat,” kata Ridwan.
Dukungan juga disampaikan Camat Sukamakmue, Sjafrizal, S.E. Menurutnya, pengolahan potensi lokal menjadi produk bernilai tambah dapat membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
“Sukamakmue memiliki banyak potensi. Yang kita butuhkan adalah bagaimana potensi tersebut tidak hanya tersedia sebagai bahan baku, tetapi bisa diolah, diberi nilai tambah, dikemas dengan baik dan memiliki pasar,” ujar Sjafrizal.
Program tersebut turut melibatkan tiga mahasiswa KKN Program Studi Teknik Pertanian USK, yakni Fras Tafis, Zawil Qiram dan Arif Ramadhan.
Tim PKMBP-TTG juga melibatkan Khairul Anwar, S.TP., M.T.; Prof. Dr. Ir. Rahmat Fadhil, S.TP., M.Sc.; serta Prof. Dr. Ing. Ir. Agus Arip Munawar, S.TP., M.Sc., IPU.
Melalui kegiatan tersebut, USK berharap teknologi pengolahan air kelapa tua dapat terus dikembangkan masyarakat Gampong Batee Shok, tidak hanya dari sisi produksi, tetapi juga kualitas, kemasan, legalitas dan pemasaran.
Jika seluruh tahapan tersebut dapat berjalan, inovasi hasil penelitian perguruan tinggi berpeluang berkembang dari sekadar teknologi tepat guna menjadi produk usaha yang memberikan nilai tambah bagi potensi kelapa dan ekonomi masyarakat Sabang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....