Sinergi Pendidikan dan Syariat Penting Bentuk Remaja Tangguh

  • 11 Agt 2026 14:34 WIB
  •  Sabang

RRI.CO.ID, Sabang – Sinergi antara keluarga, dunia pendidikan, penerapan syariat Islam, dan layanan sosial dinilai penting untuk membentuk remaja yang tangguh dalam menghadapi perkembangan teknologi dan berbagai tantangan sosial.

Kepala Seksi Perundang-undangan Syariat Islam Dinas Syariat Islam Aceh, Irhamna Yusra, S.Ag., M.Us., mengatakan masa remaja merupakan fase penting dalam pembentukan karakter dan jati diri sebelum memasuki kehidupan dewasa.

Menurutnya, pembinaan remaja tidak cukup hanya mengandalkan pendidikan formal, tetapi perlu diperkuat dengan pemahaman agama, keteladanan keluarga, serta pendampingan sosial.

“Di bidang pendidikan tentunya sebagai wadah untuk membentuk intelektual dan karakter. Sedangkan di bidang syariat Islam sebagai pondasi akhlak, moral, dan spiritual. Sementara layanan sosial menjadi pendamping untuk mengatasi masalah-masalah sosial keremajaan,” kata Irhamna dalam Dialog Indonesia Layak Anak di RRI Banda Aceh, Minggu 9 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, sinergi tersebut diperlukan agar remaja memiliki bekal yang cukup dalam menghadapi berbagai persoalan, termasuk pengaruh perkembangan teknologi informasi dan media digital.

Irhamna juga menekankan keluarga sebagai lingkungan pendidikan pertama bagi anak. Orang tua, kata dia, perlu menjadi teladan, membangun komunikasi yang terbuka, sekaligus mendampingi anak dalam menggunakan teknologi.

“Orang tua ini menjadi cermin,” ujarnya.

Menurut Irhamna, pengawasan penggunaan telepon seluler tidak harus dilakukan dengan larangan yang berlebihan. Orang tua justru perlu mengatur waktu penggunaan dan memberikan pendampingan agar teknologi dimanfaatkan untuk kegiatan yang positif dan edukatif.

Sementara itu, Kepala Seksi Tindak Lanjut Kasus UPTD PPA DP3A Aceh, Nurjanisah, mengatakan perlindungan dan pemenuhan hak anak membutuhkan kolaborasi seluruh pihak, mulai dari keluarga, sekolah, pemerintah hingga masyarakat.

Upaya pencegahan dilakukan melalui sosialisasi kepada aparat desa, sekolah, guru, siswa, orang tua, dan masyarakat. Selain itu, masyarakat dilibatkan melalui program Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat atau PATBM.

“Sinergisitas antara semua lintas sektor sangat membantu dalam penanganan kasus secara bertahap untuk pemenuhan hak-hak korban,” kata Nurjanisah.

Ia berharap kolaborasi lintas sektor terus diperkuat untuk menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang anak, mulai dari tingkat desa hingga kabupaten dan kota.

Upaya tersebut dinilai menjadi bagian penting dalam mewujudkan Indonesia Layak Anak 2030.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....