Penyuluh KB Banda Aceh Tak Hanya Layani Program Kontrasepsi
- 08 Agt 2026 01:34 WIB
- Sabang
RRI.CO.ID, Sabang – Penyuluh keluarga berencana (KB) di Kota Banda Aceh tidak hanya berperan memberikan layanan kontrasepsi, tetapi juga menjadi edukator, pendamping, fasilitator, dan penggerak masyarakat dalam mewujudkan keluarga yang sehat, harmonis, dan berkualitas.
Penyuluh KB Ahli Muda Kota Banda Aceh, Fitriana, S.K.M., mengatakan tugas penyuluh KB mencakup empat fungsi utama, yakni penyuluhan, penggerakan, pelayanan, dan pengembangan. Melalui peran tersebut, penyuluh memberikan komunikasi, informasi, dan edukasi kepada masyarakat mengenai kesehatan reproduksi, ketahanan keluarga, pengasuhan anak, hingga berbagai isu kependudukan.
"Peran penyuluh KB saat ini tidak hanya berfokus pada pelayanan kontrasepsi, tetapi juga mendampingi masyarakat dalam membangun keluarga yang berkualitas," ujar Fitriana dalam Dialog RRI Perempuan dan Anak di RRI Banda Aceh, Senin 3 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, penyuluh KB juga melakukan pendekatan kepada tokoh formal maupun informal, membentuk kelompok pelopor, memberikan advokasi kepada tenaga kesehatan, serta memanfaatkan media digital untuk memperluas jangkauan edukasi kepada masyarakat.
Dalam menjalankan tugas di lapangan, penyuluh KB didukung Balai Penyuluh KB dan Pusat Pelayanan Keluarga Sejahtera (PPKS/Satyagatra). Layanan tersebut menyediakan konsultasi bagi keluarga, calon pengantin, remaja, keluarga balita, lansia, hingga pemberdayaan ekonomi keluarga dengan melibatkan berbagai mitra, seperti Kantor Urusan Agama (KUA), psikolog, puskesmas, dan rumah sakit.
Menurut Fitriana, persoalan yang paling sering ditemui saat ini berkaitan dengan pola pengasuhan anak di era digital. Kesibukan orang tua serta penggunaan gawai yang kurang terkontrol menyebabkan komunikasi dalam keluarga berkurang dan berpotensi meningkatkan risiko munculnya berbagai perilaku negatif pada remaja.
Untuk menjawab tantangan tersebut, penyuluh KB terus mengembangkan berbagai program pembinaan melalui Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R), pendampingan calon pengantin melalui aplikasi Elektronik Siap Nikah dan Hamil (Elsimil), serta pemanfaatan podcast dan media digital agar masyarakat lebih mudah memperoleh informasi mengenai pembangunan keluarga.
Fitriana mengajak masyarakat memanfaatkan layanan penyuluh KB yang tersedia di setiap kecamatan. Menurutnya, keluarga yang berkualitas tidak terbentuk secara kebetulan, melainkan melalui perencanaan yang baik, komunikasi yang terbuka, serta dukungan seluruh anggota keluarga.
"Ketika keluarga menjadi kuat, masyarakat juga akan menjadi lebih sehat, mandiri, dan berkualitas," tutupnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....