Karhutla Meningkat di Aceh, Masyarakat di Imbau Waspada

  • 29 Jul 2026 14:02 WIB
  •  Sabang

RRI.CO.ID, Sabang - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan terjadinya peningkatan signifikan jumlah titik panas (hotspot) di Provinsi Aceh berdasarkan hasil pemantauan satelit pada periode 28-29 Juli 2026. Dalam kurun waktu satu hari, jumlah hotspot meningkat dari 27 titik menjadi 70 titik, masyarakat di imbau waspada terhadap potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah.

Prakirawan BMKG, Fitriana Nur, mengatakan, pada 28 Juli, BMKG mendeteksi sebanyak 27 titik panas yang seluruhnya berada pada kategori zona kuning atau tingkat kepercayaan sedang (siaga). Sebaran hotspot didominasi oleh Kabupaten Aceh Besar dengan 9 titik, disusul Kabupaten Aceh Jaya sebanyak 8 titik, Kabupaten Aceh Barat dan Aceh Jaya masing-masing sebanyak 3 titik, Aceh Utara 2 titik serta masing-masing 1 titik di Pidie dan Nagan Raya.

“Sehari kemudian, tepatnya pada 29 Juli, hasil pemantauan menunjukkan lonjakan jumlah hotspot menjadi 70 titik. Berdasarkan tingkat kepercayaannya, hotspot tersebut terdiri atas 3 titik berstatus zona merah, 66 titik zona kuning dan 1 titik zona hijau,” ungkapnya, Rabu 29 Juli 2026.

Sebaran titik panas pada 29 Juli, jelasnya, paling banyak ditemukan di Bireun dengan 24 titik, diikuti Kabupaten Aceh Jaya sebanyak 11 titik, dan Aceh Barat 5 titik. Terdapat juga sebaran titik panas lainnya, seperti di Aceh Tengah, Aceh Timur, Aceh Selatan, Aceh Besar, Bener Meriah, Gayo Lues, Nagan Raya, Langsa, Pidie dan Pidie Jaya.

“Dari 3 hotspot yang berstatus zona merah, titik berada di Kabupaten Bireun, 1 titik di Aceh Jaya, dan 1 titik di Kabupaten Aceh Barat,” tambah Fitriana.

Menurutnya, hotspot diklasifikasikan ke dalam tiga tingkat kepercayaan, yaitu zona hijau dengan tingkat kepercayaan rendah, zona kuning dengan tingkat kepercayaan sedang atau siaga, dan zona merah dengan tingkat kepercayaan tinggi. Hotspot yang telah mencapai zona merah mengindikasikan kemungkinan yang tinggi bahwa anomali panas yang terdeteksi satelit berkaitan dengan kejadian kebakaran di lapangan.

Memasuki musim kemarau, BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Diperlukan kewaspadaan bagi masyarakat untuk menghindari hal-hal yang dapat merugikan masyarakat di wilayah tersebut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....