Khanduri Laot Jadi Simbol Syukur dan Pelestarian Adat Masyarakat Pesisir Sabang
- 29 Jun 2026 16:39 WIB
- Sabang
RRI.CO.ID, Sabang: Khanduri Laot menjadi salah satu tradisi adat yang terus dilestarikan oleh masyarakat pesisir Aceh, khususnya di Kota Sabang. Tradisi yang telah berlangsung secara turun-temurun ini tidak hanya menjadi bentuk rasa syukur atas hasil laut yang diberikan Allah SWT, tetapi juga menjadi momentum mempererat persaudaraan, menjaga kelestarian laut, serta mempertahankan nilai-nilai adat yang diwariskan para leluhur.
Ketua Panglima Laot Kota Sabang, Ali Rani, mengatakan Khanduri Laot memiliki makna yang sangat mendalam bagi masyarakat nelayan. Menurutnya, tradisi ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan bagian dari identitas budaya masyarakat pesisir yang harus terus dijaga keberlangsungannya.
"Khanduri Laot merupakan ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas rezeki yang diberikan melalui laut. Tradisi ini juga menjadi wadah mempererat silaturahmi antarnelayan, memperkuat kebersamaan, serta mengingatkan kita untuk menjaga laut sebagai sumber kehidupan yang harus dilestarikan," ujar Ali Rani, Senin 29 Juni 2026.
Dalam pelaksanaannya, Khanduri Laot diawali dengan doa bersama yang dipimpin tokoh agama, kemudian dilanjutkan dengan prosesi adat serta makan bersama. Pada momen tersebut, para nelayan juga menghentikan aktivitas melaut selama beberapa hari sebagai bentuk penghormatan terhadap hukum adat yang telah berlaku sejak ratusan tahun lalu di Aceh.
Selain sebagai bentuk syukur, Khanduri Laot juga menjadi media untuk memperkuat peran lembaga adat Panglima Laot dalam mengatur kehidupan masyarakat nelayan. Melalui lembaga adat ini, berbagai aturan mengenai tata cara melaut, penyelesaian sengketa antarnelayan, hingga upaya menjaga kelestarian sumber daya laut terus dijalankan sesuai hukum adat yang masih dihormati masyarakat hingga saat ini.
"Pesan utama Khanduri Laot adalah menjaga hubungan yang harmonis antara manusia dengan Allah, sesama manusia, dan alam. Laut bukan hanya tempat mencari nafkah, tetapi juga titipan yang harus dijaga agar tetap memberikan manfaat bagi generasi yang akan datang," katanya.
Ali Rani menambahkan, keberadaan Khanduri Laot juga memiliki nilai sosial dan budaya yang sangat tinggi. Tradisi ini mengajarkan semangat gotong royong, saling menghormati, serta memperkuat persatuan masyarakat pesisir tanpa membedakan latar belakang maupun status sosial.
Ia berharap pelaksanaan Khanduri Laot dapat terus dilestarikan sebagai warisan budaya Aceh sekaligus menjadi daya tarik wisata budaya di Kota Sabang. Menurutnya, generasi muda perlu memahami makna yang terkandung dalam tradisi tersebut agar tidak hanya mengenalnya sebagai sebuah perayaan, tetapi mampu meneruskan nilai-nilai yang diwariskan para leluhur sehingga Khanduri Laot tetap lestari dari generasi ke generasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....