Forum Lintas Sektor Dorong Langkah Nyata Selamatkan Lingkungan Aceh
- 11 Jun 2026 13:16 WIB
- Sabang
RRI.CO.ID, Banda Aceh – Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 menjadi momentum refleksi sekaligus seruan aksi penyelamatan lingkungan di Aceh. Hal itu mengemuka dalam Webinar dan Diskusi Publik bertema Aceh Kaya Akan Sumber Daya Alam dan Airnya, Tapi Mengapa Lingkungannya Terus Saja Terluka, yang digelar secara virtual, Kamis 11 Juni 2026.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi DPW Sarekat Hijau Indonesia (SHI) Aceh, Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Cabang Aceh Besar, dan Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Serambi Mekkah. Webinar menghadirkan unsur pemerintah, akademisi, organisasi profesi, praktisi, mahasiswa, komunitas lingkungan, hingga masyarakat sipil.
Ketua PII Cabang Aceh Besar Ir. Variadi, ST, M.Eng, IPU, ASEAN Eng, selaku keynote speaker menegaskan bahwa pembangunan dan perlindungan lingkungan tidak dapat dipisahkan. "Kemajuan ekonomi harus berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian sumber daya alam agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan," tegas Variadi.
Pada sesi pertama, Direktur Perumda Tirta Aneuk Laot Kota Sabang, Eddy Husnizal, memaparkan kondisi sumber daya air yang menghadapi ancaman penurunan kualitas dan kuantitas. Ia menyebut kerusakan daerah aliran sungai (DAS) dan deforestasi menjadi faktor yang memperburuk kondisi lingkungan di Aceh.
"Isu air harus ditempatkan sebagai agenda strategis dalam pembangunan daerah. Menurutnya, penurunan kualitas dan kuantitas air menjadi indikator bahwa sistem ekologis sedang mengalami tekanan, kata Eddy.
Ia juga mengingatkan bahwa kerusakan hutan dan DAS akan berdampak langsung terhadap keberlanjutan pasokan air bagi masyarakat. Karena itu, perlindungan kawasan tangkapan air dan pengelolaan DAS perlu menjadi prioritas bersama.
Sementara itu, Ketua DPW SHI Aceh, Dr. Ir. T. M. Zulfikar, menyoroti pentingnya tata kelola sumber daya alam yang berkeadilan dan berkelanjutan. Ia menilai Aceh memiliki modal ekologis yang besar, namun membutuhkan paradigma pembangunan yang lebih adaptif terhadap daya dukung lingkungan.
"Kerusakan lingkungan akan terus menjadi biaya yang harus ditanggung masyarakat apabila tata kelola ruang tidak diperbaiki. Ia juga menegaskan bahwa penyelamatan lingkungan memerlukan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, masyarakat sipil, dan pelaku pembangunan," ujar Zulfikar.
Pada sesi ketiga, Ketua Program Studi Teknik Lingkungan Universitas Serambi Mekkah, Ir. Vera Viena, menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam menjawab tantangan lingkungan. Ia mengatakan ilmu pengetahuan harus menjadi dasar pengambilan keputusan sekaligus mendorong lahirnya solusi yang dapat diterapkan di lapangan.
Vera menambahkan bahwa kesadaran lingkungan perlu dibangun sebagai budaya bersama. Menurutnya, kepedulian terhadap lingkungan tidak boleh hanya muncul ketika terjadi bencana atau krisis.
Diskusi berlangsung aktif dengan berbagai masukan dari peserta yang berasal dari beragam profesi dan institusi. Forum menghasilkan sejumlah rekomendasi awal yang akan menjadi bahan tindak lanjut bagi para pemangku kepentingan.
Rekomendasi tersebut meliputi penguatan tata kelola sumber daya alam, perlindungan kawasan hutan dan DAS, serta peningkatan literasi lingkungan. Selain itu, peserta juga mendorong penguatan kolaborasi lintas sektor untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan di Aceh.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....