Warga Beutong Ateuh Tolak Investasi Tambang Rp200 Triliun Demi Selamatkan Alam

  • 01 Jun 2026 07:24 WIB
  •  Sabang

RRI.CO.ID, Nagan Raya - Masyarakat Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, menegaskan sikap untuk tetap menolak rencana eksploitasi tambang tembaga di wilayah mereka. Sikap tegas ini tidak goyah meskipun pemerintah daerah sempat mengklaim nilai potensi investasi yang bisa masuk ke daerah tersebut mencapai angka fantastis, yakni Rp200 triliun.

Warga menyatakan bahwa indikator kesejahteraan sejati tidak harus dibayar mahal dengan kerusakan lingkungan dan hilangnya ruang hidup bagi generasi mendatang.

Ketua Perempuan Beutong Bersatu, Saudah, menyatakan bahwa masyarakat Beutong Ateuh tidak akan silau atau mengubah pendirian hanya karena iming-iming angka investasi bernilai ratusan triliun dari sektor pertambangan.

Menurutnya, warga secara sadar lebih memilih untuk mempertahankan tanah, hutan, dan sumber air yang selama ini menjadi urat nadi kehidupan mereka, ketimbang menerima keuntungan ekonomi yang bersifat sementara.

“Kami tidak akan berubah pikiran dan akan terus menyuarakan penolakan terhadap tambang yang dapat menyebabkan kerusakan alam dan lingkungan hidup masyarakat Beutong Ateuh. Kami tidak perlu uang banyak. Kami hanya butuh kehidupan yang layak berdampingan dengan alam. Mendapatkan hasil dari alam saja sudah cukup untuk hidup kami,” tegas Saudah, Sabtu (30/5/2026).

Ia menambahkan, ukuran kesejahteraan masyarakat tidak selalu ditentukan oleh besarnya modal asing atau investasi yang masuk. Selama alam Beutong tetap lestari, masyarakat dipastikan masih dapat hidup makmur dari hasil pertanian, hutan, dan sumber daya alam warisan leluhur.

Sikap penolakan ini didasari oleh kesadaran jangka panjang bahwa tanah Beutong merupakan titipan yang harus diserahkan dalam kondisi baik kepada generasi pelanjut, bukan untuk dieksploitasi demi keuntungan jangka pendek kelompok tertentu. Masyarakat juga menyatakan kesiapannya untuk menghadapi berbagai risiko di lapangan demi membentengi wilayah mereka dari masuknya alat-alat berat pertambangan.

“Tanah ini untuk anak cucu kami, bukan untuk dijual demi kenikmatan sesaat para penguasa. Kami akan pertahankan tanah Beutong meski nyawa taruhannya. Jika bupati mau memasukkan investor untuk mengeruk hasil bumi di Beutong, maka kami pastikan akan terus melawan. Tanpa tambang kami juga bisa sejahtera,” pungkas Saudah.

Pernyataan bersuara lantang dari perwakilan warga ini mencuat sebagai respons langsung setelah munculnya klaim pemerintah terkait potensi tembaga bernilai Rp200 triliun dari hasil eksplorasi di Beutong Ateuh. Bagi masyarakat adat setempat, nilai nominal sebesar apa pun tidak akan pernah bisa menggantikan fungsi ekologis hutan dan lingkungan yang menjadi pelindung kehidupan mereka selama ini.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....