Rujak Aceh, Kuliner Legendaris di Ujung Barat Nusantara
- 20 Agt 2025 00:57 WIB
- Sabang
KBRN, Sabang: Duduk santai di bawah pepohonan rindang, ditemani hembusan angin laut dan panorama hutan tropis, memberi pengalaman tak terlupakan bagi wisatawan di Tugu Kilometer Nol Indonesia, Sabang. Di tempat ikonik ini, ada satu kuliner sederhana yang kini menjelma legenda, yakni Rujak Aceh Kak Eti.
Warung rujak milik Nurhayati, akrab disapa Kak Eti, mulai berdiri sejak 2014. Dari waktu ke waktu, racikan buah segar dan bumbu khasnya terus menarik perhatian, menjadikannya primadona kuliner di kawasan Kilometer Nol.
Setiap musim libur panjang, Rujak Kak Eti bisa terjual hingga 400 porsi per hari. Dengan harga Rp10 ribu per bungkus, jajanan ini bukan hanya digemari wisatawan, tetapi juga warga Sabang yang sengaja datang ke KM Nol.
“Kalau libur panjang bisa sampai ratusan porsi sehari. Yang beli bukan cuma wisatawan, banyak juga warga Sabang yang sengaja datang hanya untuk makan rujak,” tutur Fadli, pembuat rujak di warung tersebut, Selasa (19/8/2025).
Keistimewaan rujak ini terletak pada bahan utamanya, yakni buah rumbia atau boh meuria. Buah tersebut dipadukan dengan batok, kacang goreng, gula aren, kecap manis, serta berbagai buah segar yang dicampur dengan ulekan bumbu tradisional.
Rasa pedas segar khas Aceh hadir dari cabai rawit yang digiling bersama bumbu. Tak jarang pembeli meminta tambahan buah tertentu, seperti apel atau melon, yang selalu dilayani Kak Eti demi menjaga kepuasan pelanggan.
“Buah segar selalu saya pilih, bahkan saya tambahkan apel dan melon meski harganya lebih mahal. Kadang ada pembeli minta diperbanyak apel, saya layani saja, tidak pernah rugi malah membuat mereka jadi pelanggan tetap,” ujarnya sambil tersenyum.
Aneka buah seperti bengkoang, mangga, timun, kuini, nenas, pepaya mengkal, jambu biji, melon, hingga jambu air melengkapi cita rasa Rujak Kak Eti. Namun ketersediaan buah di Sabang masih terbatas sehingga sebagian besar dipasok dari Banda Aceh.
“Di Sabang jarang tersedia buah yang saya butuhkan, jadi ambil dari Banda Aceh. Selain segar juga harganya lebih terjangkau, meski kalau musim libur panjang harga buah bisa naik dua kali lipat, apalagi mangga,” jelasnya.
Perjalanan menuju warung Rujak Aceh Kak Eti sendiri sudah menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Dari Pelabuhan Balohan, butuh waktu sekitar 45 menit perjalanan melewati panorama laut biru dan hutan tropis Pulau Weh.
Sesampainya di Tugu Kilometer Nol, pengunjung bisa bersantai, berfoto di titik paling barat Indonesia, lalu menutup kunjungan dengan seporsi rujak segar khas Aceh. Dengan rasa konsisten sejak awal berjualan, Rujak Kak Eti kini dianggap kuliner wajib coba setiap kali berkunjung ke Sabang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....