Deteksi Dini Penting Cegah Komplikasi Preeklamsia

  • 06 Sep 2026 17:40 WIB
  •  Sabang

RRI.CO.ID, Sabang - Pemeriksaan kehamilan secara rutin menjadi langkah penting untuk mendeteksi risiko preeklamsia sejak dini. Kondisi tersebut dapat berkembang menjadi komplikasi serius apabila tidak segera mendapatkan penanganan.

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Umum Hermina Banda Aceh, dr. Shintya Habibie, Sp.OG., mengatakan setiap ibu hamil perlu mengenali kondisi tubuhnya. Pemeriksaan rutin membantu tenaga kesehatan mengetahui tekanan darah dan faktor risiko kehamilan. “Pemeriksaan antenatal care yang teratur akan mengetahui kita masuk faktor risiko preeklamsia atau tidak,” kata dr. Shintya dalam Dialog Asokaya RRI Banda Aceh, Sabtu 22 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, preeklamsia dapat terjadi pada ibu dengan maupun tanpa riwayat tekanan darah tinggi, karena itu, ibu hamil tidak boleh menganggap dirinya aman hanya karena tidak memiliki keluhan. Kementerian Kesehatan menyebut pemeriksaan kehamilan dapat mendeteksi komplikasi sejak dini. Pemeriksaan mencakup pemantauan tekanan darah, berat badan, urine, serta kondisi dan pertumbuhan janin.

dr. Shintya menyebut sejumlah kondisi perlu mendapat perhatian lebih, di antaranya kehamilan pada usia terlalu muda atau lebih dari 35 tahun, obesitas, jarak kehamilan terlalu dekat, serta riwayat preeklamsia, ibu dengan hipertensi, diabetes, lupus, penyakit tiroid, dan penyakit penyerta lainnya juga memiliki risiko lebih tinggi. Menurutnya, gejala preeklamsia tidak selalu terlihat jelas, bahkan tekanan darah ibu dapat meningkat tanpa disertai sakit kepala atau keluhan lainnya. Riwayat preeklamsia pada kehamilan sebelumnya turut meningkatkan kemungkinan kondisi serupa pada kehamilan berikutnya.

Karena itu, pemeriksaan tekanan darah menjadi bagian penting dalam pemeriksaan antenatal. Kementerian Kesehatan menyatakan tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih setelah usia kehamilan 20 minggu perlu mendapat perhatian medis.

Selain tekanan darah, ibu hamil perlu mewaspadai sakit kepala hebat dan gangguan penglihatan. Nyeri ulu hati, pembengkakan pada wajah atau tangan, serta berkurangnya gerakan janin juga perlu segera diperiksa.

dr. Shintya mengingatkan ibu hamil tidak menunggu gejala menjadi berat, apabila muncul keluhan yang mengarah pada preeklamsia, ibu perlu segera mencari pertolongan di fasilitas kesehatan. Peran tenaga kesehatan juga sangat penting di tingkat pelayanan primer, bidan, dokter umum, dan petugas kesehatan perlu lebih teliti ketika menemukan faktor risiko pada ibu hamil.

Menurutnya, tekanan darah yang meningkat perlu diperiksa kembali setelah ibu beristirahat, apabila tekanan darah tetap tinggi, ibu harus mendapat pemantauan dan pemeriksaan lanjutan. Pencegahan juga perlu dilakukan sebelum kehamilan melalui persiapan prakonsepsi, ibu dapat mengendalikan berat badan, tekanan darah, kadar gula darah, serta penyakit penyerta sebelum merencanakan kehamilan.

Selama kehamilan, pola makan sehat dan aktivitas fisik ringan juga perlu dijaga. Kementerian Kesehatan merekomendasikan pemeriksaan rutin, menjaga berat badan ideal, berolahraga, serta mengendalikan tekanan darah dan kadar gula.

Preeklamsia juga dapat menimbulkan dampak serius bagi janin, gangguan aliran darah ke plasenta dapat menyebabkan pertumbuhan janin terhambat, kelahiran prematur, hingga kematian janin. Oleh karena itu, kewaspadaan ibu dan keluarga menjadi bagian penting dalam menjaga keselamatan selama kehamilan, pemeriksaan rutin dan penanganan cepat dapat membantu mencegah preeklamsia berkembang menjadi komplikasi yang lebih berat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....