Jangan Percaya Mitos Penyakit Kulit dan Kelamin, Ini Kata Dokter

  • 16 Jul 2026 16:10 WIB
  •  Sabang

RRI.CO.ID, Sabang – Banyak informasi yang beredar di masyarakat mengenai penyakit kulit dan penyakit kelamin ternyata tidak sepenuhnya benar. Karena itu, masyarakat diimbau tidak mudah mempercayai mitos dan segera berkonsultasi kepada tenaga medis apabila menemukan perubahan pada kondisi kulit maupun organ kelamin.

Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin, dr. Elfa Wirdani Fitri, M.Kes, Sp.DVE, FINSDV., mengatakan tidak semua penyakit kulit bersifat menular. Penyakit tersebut dapat disebabkan infeksi bakteri, virus, jamur maupun faktor noninfeksi seperti alergi, kelainan bawaan, hingga penyakit sistemik. "Kalau ada perubahan pada kulit, baik perubahan warna, muncul benjolan maupun luka yang tidak kunjung sembuh, sebaiknya segera diperiksa. Kulit adalah jendela yang bisa menunjukkan kondisi kesehatan tubuh secara keseluruhan," katanya dalam Dialog Klinik Angkasa RRI Banda Aceh, Sabtu 11 Juli 2026.

Menurutnya, sejumlah anggapan yang berkembang di masyarakat masih keliru. Salah satunya adalah anggapan bahwa pipi bayi yang kemerahan disebabkan oleh air susu ibu (ASI) yang menetes ke wajah, kondisi tersebut justru lebih sering berkaitan dengan dermatitis atopik atau alergi, bukan karena ASI.

Ia juga menepis anggapan bahwa panu mudah menular melalui sentuhan. Berdasarkan perkembangan ilmu kedokteran, panu merupakan pertumbuhan berlebih jamur yang memang secara alami hidup di kulit dan dipengaruhi kondisi tubuh serta lingkungan.

Selain itu, penggunaan tabir surya dengan SPF tinggi bukan berarti memberikan perlindungan sepanjang hari. Tabir surya tetap perlu diaplikasikan ulang setiap dua hingga tiga jam, terutama bagi mereka yang banyak beraktivitas di luar ruangan.

dr. Elfa juga mengingatkan masyarakat agar berhati-hati menggunakan produk pemutih kulit tanpa izin edar. Menurutnya, sebagian produk ilegal mengandung bahan berbahaya seperti merkuri atau steroid yang dapat menimbulkan kerusakan kulit hingga gangguan kesehatan jangka panjang.

Ia menegaskan, kulit yang sehat bukan ditentukan oleh warna kulit, melainkan kelembapan yang terjaga, bebas luka, serta terlindungi dari berbagai penyakit. "Masyarakat sebaiknya fokus menjaga kesehatan kulit, bukan mengejar warna kulit tertentu. Kulit yang sehat adalah kulit yang berfungsi baik sebagai pelindung tubuh," tutupnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....