Tiga Keterlambatan Penyebab Tingginya Kematian Ibu Melahirkan
- 18 Jun 2026 23:03 WIB
- Sabang
RRI.CO.ID, Sabang – Tiga bentuk keterlambatan dalam pelayanan kesehatan masih menjadi faktor utama yang berkontribusi terhadap tingginya angka kematian ibu melahirkan di Indonesia. Kondisi tersebut meliputi keterlambatan mengambil keputusan, keterlambatan mencapai fasilitas kesehatan rujukan, dan keterlambatan memperoleh penanganan medis yang memadai.
Pakar Obstetri dan Ginekologi, Prof. Dr. dr. Rajuddin, Sp.OG, (K)., Subsp. FER., mengatakan ketiga faktor tersebut sering terjadi pada kasus-kasus kegawatdaruratan obstetri dan harus menjadi perhatian seluruh pihak.
“Menurut WHO ada tiga keterlambatan yang menjadi penyebab utama. Pertama terlambat mengambil keputusan, kedua terlambat mencapai fasilitas rujukan, dan ketiga terlambat mendapatkan penanganan yang adekuat di tempat rujukan,” kata Rajuddin dalam Dialog Klinik Angkasa RRI Banda Aceh, Sabtu 13 Juni 2026.
Ia menjelaskan, keterlambatan sering kali dimulai dari tingkat keluarga yang menunda membawa ibu hamil ke fasilitas kesehatan saat muncul tanda-tanda komplikasi. Akibatnya, kondisi pasien menjadi semakin berat ketika tiba di tempat pelayanan kesehatan.
Selain itu, keterlambatan juga terjadi karena proses rujukan yang tidak tepat sasaran. Pasien seharusnya dirujuk ke rumah sakit yang memiliki kemampuan menangani kasus kegawatdaruratan, bukan sekadar mengikuti pola rujukan berjenjang yang memperpanjang waktu penanganan.
“Kalau rumah sakit itu tidak memiliki kompetensi dan fasilitas untuk menangani kasus emergency, jangan dirujuk ke sana. Karena itu hanya akan memperpanjang proses dan membahayakan nyawa ibu,” ujarnya.
Rajuddin juga menyoroti pentingnya komunikasi antara tenaga kesehatan dan keluarga pasien, ia juga menilai edukasi yang memadai dapat membantu keluarga mengambil keputusan lebih cepat saat terjadi kondisi darurat. “Komunikasi itu sangat penting. Dokter harus mampu menjelaskan diagnosis, tindakan yang akan dilakukan, manfaat, risiko, hingga kemungkinan hasil yang akan terjadi kepada pasien dan keluarganya,” katanya.
Ia meminta pemerintah daerah, rumah sakit, dan seluruh fasilitas kesehatan untuk memperkuat pengawasan serta melakukan evaluasi rutin terhadap sistem rujukan yang berjalan saat ini. “Kalau yang salah sistemnya, perbaiki sistemnya. Kalau yang bermasalah kompetensi tenaga kesehatannya, tingkatkan kembali kompetensinya. Yang terpenting adalah keselamatan pasien,” tutupnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....