Lemak, Rahasia Nutrisi Otak Anak di Dua Tahun Pertama
- 16 Feb 2026 09:50 WIB
- Sabang
RRI.CO.ID, Sabang - Berbicara mengenai status gizi, Indonesia mengalami tantangan Kesehatan serius yang disebut sebggai trple burden of malnutrition. Kondisi ini mencakup tiga masalah utama, yaitu kekurangan gizi (stunting dan wasting), obesitas, serta anemia (kekurangan zat besi).
Sekretaris Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia (PDGKI) Cabang Aceh, dr. Fiona Desi Amelia, Sp. GK, menjelaskan bahwa stunting di Aceh masih menjadi perhatian besar dan perlunya kerja keras yang lebih konsisten dalam memperbaiki pola asuh dan pola makan anak. “Prevalensi stunting cenderung menurun secara nasional berada di angka 19,8 persen, sedangkan Aceh berada berada di peringkat ketujuh di angka 28,6 persen, artinya masih jauh dari harapan nasional,” ujarnya dalam dialog bersama Pro 1 Banda Aceh, Senin 26 Januari 2026.
Lebih lanjut juga dijelaskan bahwa adanya kekeliruan umum dalam praktik pemberian makan di rumah. Banyak orang tua merasa bangga jika anaknya makan banyak sayur, namun cenderung mengabaikan asupan lemak karena takut kolesterol.
“Padahal, pada dua tahun pertama kehidupan, anak justru membutuhkan lemak sekitar 40-50% untuk perkembangan otak dan kenaikan berat badan,” tambahnya. Menurutnya, proporsi makan sering terbalik antara anak-anak dan orang dewasa. Seringnya anak diberi makanan “sehat” tanpa lemak sementara orang tua mengkonsumsi makanan berlemak secara berliebihan.
Namun, perhatikan lemak yang diberikan kepada anak harus lemak baik atau lemak tak jenuh. Lemak tak jenuh bersumber dari telur, daging ayam, ikan, kacang, buah alpukat, serta minyak zaitun.
Selain itu, pentingnya responsive feeding atau memberikan makan sesuai sinyal lapar dan kenyang anak menjadi kunci. Jadi, ibu mulai memberikan makan saat bayi menunjukkan tanda lapar dan berhenti menyuapi saat tampak kenyang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....