Peneliti USK Kembangkan AI untuk Deteksi Stroke dan Pengenalan Wajah

  • 27 Jul 2026 13:52 WIB
  •  Sabang

RRI.CO.ID, Sabang – Peneliti Universitas Syiah Kuala (USK) terus mengembangkan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) berbasis deep learning untuk membantu penyelesaian berbagai persoalan di bidang kesehatan, keamanan, hingga pelayanan publik. Pengembangan tersebut diharapkan mampu meningkatkan akurasi analisis dan mendukung pengambilan keputusan di berbagai sektor.

Ketua Pusat Riset Data Sains dan Kecerdasan Buatan USK, Prof. Dr. Taufik Fuadi Abidin, S.Si., M.Tech., mengatakan pesatnya perkembangan AI didorong oleh ketersediaan data dalam jumlah besar, meningkatnya kemampuan komputasi melalui Graphics Processing Unit (GPU), serta kemajuan algoritma yang mampu menghasilkan prediksi dengan tingkat akurasi yang semakin tinggi.

"Teknologi AI semakin berkembang karena terbukti mampu memberikan hasil yang sesuai harapan. Infrastruktur komputasi semakin kuat, data semakin melimpah, dan algoritma yang dikembangkan para peneliti kini dapat memanfaatkan data besar secara optimal," kata Prof. Taufik dalam Dialog Khusus RRI Banda Aceh, Rabu 22 Juli 2026.

Menurutnya, AI tidak dirancang untuk menggantikan peran manusia, melainkan menjadi alat bantu yang dapat mempercepat proses analisis, meningkatkan efisiensi, dan memberikan rekomendasi berbasis data. Dalam bidang kesehatan, misalnya, AI berfungsi sebagai second opinion yang tetap memerlukan verifikasi dan keputusan akhir dari tenaga medis.

"AI adalah alat bantu, bukan pengganti manusia. Dalam dunia medis misalnya, AI berfungsi sebagai second opinion yang tetap harus diverifikasi oleh tenaga ahli," ujarnya.

Salah satu inovasi yang sedang dikembangkan tim peneliti USK adalah MTL-Stroke Net, sebuah model AI yang mampu mendeteksi stroke melalui citra CT Scan. Peneliti sekaligus mahasiswa Program Doktor Matematika dan Aplikasi Sains Bidang AI USK, Rizal Wahyudi, S.Si., M.Kom., menjelaskan bahwa sistem tersebut tidak hanya mendeteksi ada atau tidaknya stroke, tetapi juga mampu mengidentifikasi jenis stroke, yakni iskemik maupun hemoragik.

"Model ini menganalisis citra CT Scan untuk mengetahui ada atau tidaknya stroke. Jika terdeteksi, sistem juga dapat mengidentifikasi apakah stroke yang dialami bersifat iskemik atau hemoragik," jelasnya.

Selain melakukan klasifikasi, sistem AI tersebut juga dirancang untuk menghitung luas area otak yang terdampak. Informasi tersebut diharapkan dapat membantu dokter melakukan analisis secara lebih cepat dan mendukung penentuan penanganan yang tepat bagi pasien.

Rizal menambahkan, penelitian MTL-Stroke Net masih berada pada tahap pengembangan dan ditargetkan selesai dalam dua tahun ke depan. Selain untuk deteksi stroke, tim peneliti USK juga mengembangkan teknologi AI di bidang pengenalan wajah (face recognition) dan sejumlah aplikasi lain yang berpotensi mendukung peningkatan layanan publik.

Ia berharap berbagai inovasi tersebut dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, sekaligus memperkuat peran AI sebagai teknologi pendukung yang membantu tenaga profesional tanpa menggantikan keputusan maupun tanggung jawab manusia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....