Anak Muda Aceh Ciptakan Aplikasi Memori Tsunami
- 07 Nov 2025 16:43 WIB
- Sabang
KBRN, Sabang: Dua arsiparis muda asal Aceh, Arie Julianda dan Eka Husnul Hidayati, berhasil mewakili Indonesia dalam program Sakura Science Exchange Program di Kyoto University, Jepang. Dalam program tersebut, mereka berkolaborasi dengan berbagai lembaga untuk mengembangkan sebuah aplikasi bernama “Memory Grab”, yang berfungsi melestarikan memori bencana, khususnya tsunami Aceh 2004.
Arie Julianda, Arsiparis sekaligus alumni program tersebut, menjelaskan bahwa Sakura Science Exchange Program merupakan kerja sama antara TDMC Universitas Syiah Kuala (USK) dengan Kyoto University, yang juga melibatkan berbagai praktisi muda dari bidang arsip, perpustakaan, hingga museum tsunami.
“Program ini memang mendorong partisipasi anak muda agar pelestarian memori bencana bisa berkelanjutan dan beradaptasi dengan teknologi,” ujar Arie dalam perbincangan bersama RRI Banda Aceh Pro 2, Senin (3/11/2025).
Menurut Arie, aplikasi Memory Grab dirancang untuk merekam perubahan bentang alam atau lanskap di lokasi-lokasi terdampak tsunami. Melalui perbandingan foto masa lalu dan kondisi terkini, aplikasi ini membantu mendokumentasikan jejak sejarah sekaligus menggambarkan ketangguhan masyarakat Aceh dalam bangkit dari bencana.
“Misalnya di kawasan Belang Padang yang dulu porak poranda, kini sudah bangkit dan kembali dimanfaatkan masyarakat. Dari situ kita bisa lihat proses perubahan dan kebangkitan itu secara visual,” jelasnya.
Sementara itu, Eka Husnul Hidayati, rekan Arie sesama arsiparis dan alumni program yang sama, menambahkan bahwa dokumentasi visual ini menjadi bagian penting dari upaya menjaga kesadaran sejarah bencana bagi generasi muda.
“Harapannya, memori bencana ini tidak hilang. Karena jika perubahan terlalu signifikan tanpa ada rekam jejak, bisa saja kita kehilangan ingatan kolektif tentang betapa besar dampak tsunami dulu,” ujarnya.
Eka juga mengingat kembali pengalaman pribadinya saat peristiwa gempa dan tsunami 2004. Ia menyebut, memori itu menjadi motivasi tersendiri untuk berkontribusi dalam proyek pelestarian memori bencana.
“Waktu itu kami juga mengalami langsung gempa besar yang membuat tak bisa berdiri, bahkan melihat banyak korban di sekitar. Itu pengalaman yang membekas dan menjadi alasan kenapa kami ingin menjaga ingatan kolektif ini,” tuturnya.
Dia berharap generasi muda dapat lebih menghargai nilai sejarah, memahami pentingnya kesiapsiagaan, serta terus menumbuhkan semangat ketangguhan masyarakat Aceh dalam menghadapi bencana.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....