Mahasiswa Aceh Ubah Ide Lomba Menjadi Bisnis Penyedap Berbahan Limbah Udang

  • 13 Agt 2026 15:52 WIB
  •  Sabang

RRI.CO.ID, Sabang – Berawal dari mengikuti lomba kewirausahaan di kampus, Muhammad Raihan, yang akrab disapa Boston, berhasil mengembangkan ide sederhana menjadi usaha penyedap berbahan dasar limbah kulit udang.

Usaha yang diberi merek Udeung’du tersebut mulai dirintis pada akhir 2023, saat Raihan masih duduk di semester enam Program Studi Perikanan, Universitas Abulyatama.

Raihan mengaku awalnya belum memiliki ide ketika mendaftarkan diri dalam kompetisi kewirausahaan. Ide tersebut justru muncul beberapa hari sebelum perlombaan setelah ia melihat banyak kulit udang yang dibuang begitu saja di pasar.

“Dua hari sebelum perlombaan saya ke pasar dan melihat limbah kulit udang masih dibuang. Kemudian saya berpikir, bagaimana rasa gurih dari udang ini bisa menjadi penyedap yang sehat, tanpa MSG dan tanpa pengawet,” kata Muhammad Raihan dalam program UMKM Talks RRI Pro 1 Banda Aceh, Senin 10 Agustus 2026.

Berangkat dari pemikiran tersebut, Raihan mulai melakukan berbagai percobaan dengan memanfaatkan sekitar setengah kilogram kulit udang. Setelah melalui serangkaian proses pengembangan dan uji coba kepada masyarakat, produk tersebut mendapat respons positif.

Upaya Raihan pun membuahkan hasil. Ia berhasil meraih juara pertama dalam kompetisi kewirausahaan tingkat kampus yang diikuti sekitar 20 hingga 30 peserta.

Dari hadiah sebesar Rp5 juta, sebagian besar dana digunakan untuk mengembangkan usaha dan mengurus legalitas produk.

“Dari hadiah Rp5 juta itu, saya gunakan Rp2,5 juta untuk legalitas seperti SNI, halal, PT, dan NIB. Sisanya kami gunakan untuk produksi berikutnya,” ujarnya.

Pengembangan usaha Udeung’du kemudian berlanjut melalui Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW). Proposal yang diajukan Raihan berhasil memperoleh pendanaan sebesar Rp13 juta setelah melalui proses seleksi tingkat nasional.

Selain itu, ia juga mendapatkan dukungan pendanaan sekitar Rp20 juta melalui sebuah kompetisi yang berada di bawah Pusat Investasi Pemerintah, Kementerian Keuangan. Dana tersebut antara lain digunakan untuk membeli oven guna meningkatkan kapasitas dan efisiensi produksi.

Sebelumnya, proses pengeringan bahan baku dilakukan dengan memanfaatkan sinar matahari selama dua hingga tiga hari. Setelah menggunakan oven, waktu pengeringan dapat dipangkas menjadi sekitar tiga jam.

Meski usaha terus berkembang, Raihan mengatakan keterbatasan modal dan kapasitas produksi masih menjadi tantangan terbesar. Kondisi tersebut menjadi kendala ketika permintaan pasar meningkat.

“Ketika permintaan ada, kami belum siap, kami kalah. Dan ketika kami terlalu cepat ekspansi, ketika kami belum siap, kompetitor akan mudah membuat produk yang serupa,” katanya.

Kendati demikian, pengusaha muda berusia 26 tahun itu tetap optimistis mengembangkan Udeung’du hingga menembus pasar nasional. Ia menargetkan produknya dapat masuk ke berbagai jaringan ritel besar di Indonesia.

Untuk memperluas jangkauan pasar, Udeung’du saat ini memanfaatkan pemasaran digital, sistem konsinyasi, reseller, serta bekerja sama dengan sejumlah toko makanan sehat di Aceh.

Raihan juga tengah menyiapkan inovasi varian baru dengan tetap mempertahankan kaldu udang sebagai bahan dasar. Pengembangan kemasan dalam bentuk botol juga menjadi salah satu inovasi yang sedang dipersiapkan.

Kepada generasi muda yang ingin memulai usaha, Raihan berpesan agar tidak mudah menyerah dan terus meningkatkan kemampuan melalui proses belajar dan kolaborasi.

“Bisnis itu tidak mudah. Tetap berusaha, tetap belajar dan berkolaborasi. Jangan takut mengenal orang baru dan menerima masukan baru,” katanya.

Kisah Raihan menunjukkan bahwa persoalan limbah di sekitar dapat menjadi peluang usaha apabila diolah melalui kreativitas, inovasi, dan keberanian untuk mencoba.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....