Literasi Digital Jadi Kunci Percepatan Transformasi UMKM Aceh

  • 28 Jun 2026 01:46 WIB
  •  Sabang

RRI.CO.ID, Sabang – Saat ini di era serba terhubung dengan berbagai hal, teknologi digital telah menjadi bagian yang tak terpishkan dari aktivitas masyarakat termasuk dalam dunia usaha, Bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), kemampuan untuk bisa memanfaatkan teknologi bukan lagi nilai tambah semata, melainkan kebutuhan agar mampu bertahan dan berkembang di tengah persaingan.

Ketua DPW GAMIES Provinsi Aceh, Adhifatra Agussalim, menilai rendahnya literasi digital masih menjadi tantangan utama dalam mendorong pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di Aceh bertransformasi menuju ekosistem digital. Menurutnya, perkembangan digitalisasi UMKM sudah mulai terlihat di sejumlah kota besar seperti Banda Aceh, Lhokseumawe, dan Langsa. Namun, kondisi tersebut belum merata hingga ke wilayah kabupaten maupun desa.

"Di kota-kota sudah mulai bergerak ke arah digital, tetapi di luar kota masih cukup tertinggal. Kendala utamanya adalah literasi digital yang masih rendah," kata Adhifatra dalam Dialog Beranda Astacita Ekonomi Digital RRI Banda Aceh, Jum'at, 26 Juni 2026.

Ia menjelaskan, GAMIES memfokuskan program pendampingan pada peningkatan pemahaman masyarakat mengenai pemanfaatan teknologi digital, mulai dari penggunaan telepon pintar, media sosial, hingga pemasaran melalui platform digital. Banyak produk unggulan Aceh sebenarnya memiliki kualitas yang mampu bersaing di pasar nasional bahkan internasional.

Namun, keterbatasan promosi dan pemanfaatan teknologi membuat produk tersebut belum dikenal secara luas. "Kita melihat banyak potensi produk Aceh yang sebenarnya bisa menembus pasar luar negeri, tetapi terkendala pada informasi dan promosi digital yang belum optimal," ujarnya.

Adhifatra memperkirakan tingkat digitalisasi UMKM Aceh saat ini masih berada pada kisaran 15 hingga 25 persen. Apabila transformasi digital dilakukan secara konsisten, angka tersebut berpotensi meningkat hingga mencapai 65 sampai 70 persen dalam dua hingga tiga tahun mendatang.

Sektor kopi menjadi komoditas paling siap memasuki pasar digital, disusul kuliner, fesyen, kerajinan dan produk ekonomi kreatif anak muda seperti animasi maupun konten digital. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa digitalisasi tidak hanya membutuhkan akses internet, tetapi juga peningkatan kualitas sumber daya manusia dan kemudahan akses pembiayaan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....