Ecoprint Dinilai Jadi Peluang UMKM Ramah Lingkungan
- 30 Mei 2026 00:48 WIB
- Sabang
RRI.CO.ID, Banda Aceh – Produk ecoprint dinilai memiliki peluang besar untuk berkembang sebagai usaha kreatif ramah lingkungan di Aceh. Selain memanfaatkan bahan alami yang mudah ditemukan, setiap motif ecoprint juga memiliki ciri khas yang tidak dapat diduplikasi secara persis.
Owner Tini Craft Collection, Suhartini mengatakan, ketertarikannya pada ecoprint berawal dari keunikan hasil motif daun dan bunga yang tidak bisa dihasilkan mesin.
“Keunikan dari hasil ecoprint itu muncul dari goresan bentuk daun, bunga dan warna yang tidak bisa dicapai mesin. Selain itu juga ramah lingkungan karena kita justru diajak menjaga alam dengan menanam kembali tanaman yang dibutuhkan,” katanya dalam program UMKM Talks RRI Banda Aceh, Senin 25 Mei 2026.
Ia menjelaskan, ecoprint merupakan teknik memindahkan warna alami dan bentuk daun ke media seperti kain, kertas hingga mug menggunakan bahan-bahan ramah lingkungan tanpa pewarna kimia sintetis. Setiap hasil ecoprint selalu berbeda walaupun menggunakan daun dan proses yang sama.
Faktor cahaya matahari, tingkat oksidasi hingga kondisi daun sangat mempengaruhi warna akhir. “Daun di pohon saja tidak ada yang sama bentuk dan ukurannya. Jadi hasil ecoprint pasti berbeda. Bahkan musim hujan dan kemarau juga mempengaruhi warna yang dihasilkan,” ujarnya.
Suhartini menyebutkan, bahan-bahan ecoprint banyak ditemukan di sekitar lingkungan masyarakat seperti daun jati, daun pakis, ekaliptus, hingga daun tanaman liar yang memiliki kandungan tanin alami. Proses pembuatan ecoprint membutuhkan beberapa tahapan mulai dari pencucian kain, mordanting untuk membuka pori kain, penataan daun, pengukusan hingga proses pengeringan dan penguncian warna.
Selain kain, produk ecoprint juga telah dikembangkan menjadi jilbab, mukena, tote bag hingga mug keramik dengan motif alami. Suhartini mengakui tantangan terbesar pengembangan ecoprint di Aceh masih pada keterbatasan sumber daya manusia dan pemasaran.
Menurutnya, produk ecoprint masih banyak diminati kalangan tertentu karena proses pembuatannya yang rumit membuat harga relatif lebih tinggi dibanding kain biasa.
Meski demikian, ia optimistis industri fesyen ramah lingkungan akan terus berkembang seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap produk alami dan berkelanjutan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....