Bahaya Radikalisme Digital Intai Remaja yang Kehilangan Sosok Teladan

  • 19 Sep 2026 17:41 WIB
  •  Sabang

RRI.CO.ID, Sabang - Remaja berkarakter dari sudut pandang psikologis berarti memiliki identitas yang kokoh, tidak mudah goyah, serta tidak sekadar mengikuti tren atau FOMO (Fear of Missing Out). Konselor Puspaga, Maria Ulfa, S.Psi., M.Si., PhD, mengatakan, realitas saat ini menunjukkan banyak remaja mengalami kriris identitas akibat kehilangan sosok teladan (role model).

“Banyak remaja saat ini kebingungan jati diri. Karena dia tidak mendapatkan contoh figure yang seharusnya. Mereka bingung harusnya perempuan seperti apa, atau laki-laki harusnya seperti apa,” ujanya dalam dialog “Merdeka Berkarakter: Menguatkan Nasionalisme Remaja di Tengah Arus Globalisasi dan Era Digital” bersama Pro 1 RRI Banda Aceh, Senin, 10 Agustus 2026.

Menurutnya, ini diakibatkan banyak orang tua tidak berani tegas atau kurang menjalin komunikasi mendalam dengan anak. Selain itu, terlalu memberikan kebebasan dalam penggunaan gawai tanpa pemfilteran adab atau batasan.

Dalam kesempatan yang sama, AKBP Goentoro Wisnoe Tjahjono, S.Pd., M.H, Plh. Kasatgaswil Aceh Densus 88 mengatakan bahwa kerentanan remaja dalam pencarian jati diri ini dapat menjadi celah yang dimanfaatkan oleh kelompok radikal dan ekstremis. “Nasionalisme ibarat sistem pertahanan. Kalau remaja kita tidak punya akar wawasan kebangsaan yang kuat, maka akan sangat mudah terseret ke dalam ruang media sosial yang berisi ujaran kebencian,” jelasnya.

Tambahnya, terdapat dua faktor remaja terpapar kekerasan melalui media sosial, yaitu secara psikologis dan secara teknologi. Remaja yang sedang mencari sosok panutan sering kali curhat di media sosial, yang kemudian digunakan oleh kelompok radikal untuk menggaet mereka ke dalam kelompoknya.

Beberapa bentuk konten berbahaya yang patut diwaspadai diantaranya, konten gore atau kekerasan ekstrem, mengidolakan tokoh aksi kekerasan sebaagai sosok idola. Kemudian, merahasiakan aktivitas digital dari orang tua, dan manipulasi empati.

Mencegah remaja jatuh dalam penyimpangan digital harus kerjasama dari berbagai pihak. Orang tua harus hadir sebagai teman bagi anak mereka aman bercerita. Kemudian, mengalihkan kecanduan layar dengan kegiatan positif seperti olahraga, ikut lomba, dan kreativitas lain. Penanganan anak yang terpapar juga tidak cukup hanya dari aspek hukum, tetapi memerlukan penelusuran akar masalah, melalui kolaborasi instansi terkait.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....