Memutus Fenomena Fatherless, Mengapa Pengasuhan Anak Butuh 'Dua Kepala'?

  • 19 Jul 2026 13:06 WIB
  •  Sabang

RRI.CO.ID, Sabang - Fatherless secara harfiah merujuk pada kondisi “tanpa ayah”. Namun, dalam realitas psikologis perkembangan anak, fenomena ini tidak selalu berarti seorang anak kehilangan ayahnya secara fisik aau yatim. Fatherless adalah sebuah kondisi di mana sosok ayah absen secara psikologis, emosional, serta minim peran dalam pengasuhan tumbuh kembang anaknya.

Anita Safitri, S.Psi, seorang psikolog, menyebutkan bahwa fenomena fatherless sering kali bermula dari stereotipe gender dan budaya patriarki yang keliru. “Ada anggapan bahwa kewajiban utama seorang ayah hanyalah bekerja mencari uang, sementara urusan mendidik dan mengasuh anak sepenuhnya adalah tugas ibu,” ujarnya dalam dialog “Fenomena Fatherless” bersama RRI Pro 2 Banda Aceh, Kamis 4 Juni 2026.

Lebih lanjut ia mengatakan bahwa kondisi ini bisa dicontohkan saat menghadiri seminar-seminar pengasuhan, yang didominasi oleh peserta ibu-ibu. “Padahal, kalau kita lihat dari kata parenting, harusnya melibatkan dua kepala, yaitu ayah dan ibu. Dengan hadirnya ayah bagi anak, menjadi role model untuk meningkatkan keberanian anak serta tanggung jawab,” tambahnya.

Belum lagi gaya parenting sekarang ini yang terkesan “lembek”. Idealnya, parenting itu harus tegas. “Metodenya adalah TTKS, yaitu Tegas, Tega, Konsisten, baru Sayang” jelasnya. Namun, banyak orang tua hari ini terbalik dalam menerapkan formula ini dengan mendahulukan rasa “sayang” dan memanjakan secara berlebihan, dan menomor terakhirkan ketegasan.

Ibu dan ayah harusnya memiliki aturan yang jelas dan disepakati bersama. Ketika anak melakukan kesalahan fatal, peran ayah sebagai penegak hukum dan pemberi batasan yang tegas di dalam rumah menjadi sangat krusial untuk meluruskan perilaku anak.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....