Literasi Anak di Era Digital Jadi Tantangan Keluarga dan Sekolah
- 22 Mei 2026 11:20 WIB
- Sabang
RRI.CO.ID, Sabang – Perkembangan teknologi digital yang sangat pesat dapat membawa perubahan besar bagi anak-anak dalam pola belajar dan kebiasaannya. Disatu sisi teknologi memberikan kemudahan untuk mengakses informasi, namun di sisi lain menjadi tantangan yang serius bagi dunia pendidikan, keluarga serta budaya literasi anak.
Pendiri sekaligus pembina Rumah Aceh, Ahmad Arif, mengatakan rendahnya minat baca masyarakat bukan semata karena masyarakat malas membaca, tetapi lebih disebabkan keterbatasan akses dan sarana literasi yang memadai. “Bukan minat baca yang rendah, tapi sarananya yang tidak ada,” ujarnya dalam perbincangan bersama RRI, Senin 18 Mei 2026.
Menurut dia, kondisi ekonomi masyarakat serta pengelolaan perpustakaan yang kurang ramah juga menjadi faktor penyebab masyarakat enggan datang ke ruang baca. Berangkat dari kondisi tersebut, Rumah Aceh menghadirkan program Minggu Baca Rame-rame atau MIBARA sejak 2014 sebagai ruang baca terbuka bagi masyarakat.
Ahmad menyebutkan melalui program itu, masyarakat dapat meminjam buku secara gratis tanpa kartu anggota maupun denda keterlambatan. Sejumlah keluarga juga mampu meminjam ratusan buku dalam setahun melalui program tersebut, hahkan salah seorang pengunjung berhasil menulis novel setelah rutin membaca selama empat tahun. “Setelah empat tahun dia dapat menghasilkan karya,” ujarnya.
Ia juga menyoroti dampak pandemi COVID-19 yang mempercepat ketergantungan anak terhadap gadget akibat proses belajar daring. “Selama COVID anak-anak dipaksa menggunakan gadget dan akhirnya terbiasa,” katanya.
Menurut Ahmad, keluarga menjadi kunci utama dalam mengontrol penggunaan teknologi digital pada anak melalui komunikasi yang baik dan pendampingan berkelanjutan. Pendidikan literasi harus dibangun melalui kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat.
Ahmad berharap masyarakat tidak hanya memanfaatkan teknologi digital untuk hiburan, tetapi juga sebagai sarana meningkatkan wawasan dan kualitas sumber daya manusia. “Keluarga, sekolah, dan gampong adalah tiga pilar yang tidak bisa dipisahkan,” ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....