Fasilitas dan Edukasi Jadi Kunci Mewujudkan Kota Ramah Disabilitas

  • 21 Apr 2026 23:27 WIB
  •  Sabang

RRI.CO.ID, Sabang – Dalam mewujudkan kota yang ramah bagi kaum difabel atau penyandang disabilitas tidak hanya pembangunan fisiknya saja, tetapi juga tentang bagaimana membangun kesadaran dan cara pandang masyarakat. Fasilitas yang memadai dan edukasi yang terus berlanjut akan menjadi paling utama dalam menciptakan lingkungan setara, insklusif dan bermartabat.

Ketua Unit Layanan Disabilitas PSGA UIN Ar-Raniry, Harri Santoso, S.Psi., M.Ed., menilai upaya mewujudkan lingkungan ramah disabilitas khususnya di Banda Aceh telah menunjukkan kemajuan, meski masih membutuhkan perbaikan berkelanjutan.

Ia menyebutkan, sejumlah fasilitas publik seperti jalur pemandu bagi tuna netra dan akses kursi roda mulai tersedia, namun implementasinya dinilai belum optimal. “Ada guiding block, tapi tidak sampai ke tujuan, ada fasilitas, tapi belum sesuai fungsi, ini menunjukkan masih perlu pengawasan dan perbaikan,” ujarnya Minggu 19 April 2026.

Harri menegaskan, penyediaan fasilitas bukan didasarkan pada rasa kasihan, melainkan merupakan kewajiban negara dalam memenuhi hak warga negara. Selain infrastruktur, ia menekankan pentingnya edukasi masyarakat, termasuk penggunaan istilah yang tepat dalam menyebut penyandang disabilitas.

Menurutnya, penggunaan istilah lama seperti “cacat” atau “tidak normal” harus ditinggalkan karena dapat menurunkan kepercayaan diri. “Bahasa itu penting. Cara kita menyebut akan memengaruhi cara kita memperlakukan,” katanya.

Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga ketenagakerjaan, dalam mendukung pemberdayaan penyandang disabilitas. Keluarga dan lingkungan memiliki peran penting dalam membangun kemandirian, dengan memberikan kesempatan dan kepercayaan kepada penyandang disabilitas untuk berkembang.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....