Alpukat Asyifa, Potensi Lokal yang Tumbuh di tengah Kota Wisata
- 29 Apr 2026 20:50 WIB
- Sabang
RRI.CO.ID, Sabang- Selama ini Kota Sabang lebih dikenal lewat wisata bahari, pantai, dan keindahan bawah lautnya. Akan tetapi, di balik citra kota wisata itu, muncul potensi baru yang perlahan mulai dilirik, yakni sektor pertanian, khususnya alpukat lokal yang dikenal dengan nama Alpukat Asyifa Sabang.
Di sejumlah gampong seperti Balohan, Cot Bau, Ie Meulee, Aneuk Laot, hingga Paya Seunara, tanaman alpukat kini mulai tumbuh di pekarangan rumah warga. Sebagian ditanam secara sederhana, sebagian lagi mulai dikembangkan sebagai peluang usaha.
Menariknya, Alpukat Asyifa Sabang lahir bukan dari penelitian besar atau program pemerintah berskala nasional. Varietas ini tumbuh dari kebiasaan sederhana masyarakat menanam biji buah di halaman rumah. Salah satu yang pertama menanamnya adalah Halimah, warga Sabang. Awalnya ia hanya menanam biji alpukat tanpa tujuan khusus. Seiring waktu, pohon itu tumbuh dan mulai berbuah.
Saat dipanen, buah yang dihasilkan ternyata memiliki rasa dan tekstur berbeda dibanding alpukat pada umumnya.
“Buahnya lebih lembut, rasanya juga lebih enak. Ada perpaduan manis dan gurih,” ujar Halimah kepada awak media Rabu 29 April 2026
Dari mulut ke mulut, alpukat tersebut mulai dikenal warga. Buahnya dibagikan, bibitnya mulai ditanam kembali, hingga akhirnya masyarakat menyebutnya sebagai Alpukat Asyifa Sabang. Perkembangan itu kemudian mendapat perhatian dari Dinas Pertanian dan Perkebunan Kota Sabang. Pemerintah mulai melakukan pendataan dan identifikasi terhadap karakteristik tanaman tersebut.
Hasil identifikasi menunjukkan Alpukat Asyifa memiliki sejumlah keunggulan yang dinilai layak dikembangkan sebagai varietas unggulan daerah. Saat ini, varietas tersebut telah memperoleh tanda daftar sebagai varietas tanaman lokal dari Pemerintah Kota Sabang. Tahapan berikutnya adalah proses pelepasan varietas sebelum dapat dikembangkan secara luas.
“Masih dalam tahap pendaftaran. Setelah pelepasan varietas, baru bisa diperbanyak secara resmi,” ujar perwakilan dinas terkait.
Secara teknis, Alpukat Asyifa memiliki karakter yang cukup menonjol. Tinggi pohon dapat mencapai sekitar 14 meter dan diperkirakan telah berkembang di Sabang selama puluhan tahun. Produktivitasnya juga cukup tinggi. Satu pohon mampu menghasilkan sekitar 175 hingga 250 kilogram buah per tahun.
Daging buahnya memiliki rasa sedikit manis tanpa pahit dengan aroma yang lembut. Berat buah berkisar antara 458 hingga 660 gram per buah, dengan tekstur daging yang tebal dan lembut. Dalam suhu ruang sekitar 28 derajat Celsius, daya simpan buah dapat mencapai delapan hingga sembilan hari setelah panen. Kondisi tersebut membuat Alpukat Asyifa mulai dilirik sebagai komoditas bernilai ekonomi.
Agus, salah seorang petani di Sabang, mengatakan kondisi tanah di wilayah tersebut memang sangat mendukung pertumbuhan berbagai jenis alpukat. “Tanah di Sabang ini cocok untuk banyak varietas alpukat,” ujarnya.
Menurut Agus, selain Alpukat Asyifa, sejumlah varietas lain juga tumbuh baik di Sabang, seperti aligator, miki, red vietnam, kelud, hingga alpukat non biji. Hal ini dinilai menjadi tanda bahwa Sabang memiliki peluang besar menjadi sentra pengembangan alpukat di Aceh. Proses tersebut nantinya akan diawasi oleh petugas pengawas benih untuk memastikan standar tanaman tetap terpenuhi.
Di sisi lain, sejumlah pelaku usaha mulai melihat peluang pengolahan alpukat menjadi produk turunan, seperti minuman, dessert, hingga bahan kuliner lainnya. Potensi itu membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat, terutama pelaku UMKM.
Meski demikian, tantangan masih dihadapi, mulai dari distribusi, promosi, hingga perubahan cuaca yang mempengaruhi hasil pertanian. Akan tetapi, optimisme masyarakat tetap tumbuh. Alpukat Asyifa dianggap sebagai contoh bahwa potensi besar bisa lahir dari hal sederhana. Dari biji yang ditanam di halaman rumah, kini berkembang menjadi harapan ekonomi baru bagi masyarakat Sabang. Di tengah perubahan yang terus berjalan, Sabang perlahan menunjukkan bahwa masa depan daerah tidak hanya bertumpu pada laut, tetapi juga pada tanah yang mulai kembali diperhatikan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....