Vibes Sekolah Online! Orang Tua di Depok Apresiasi PJJ Imbas Abu Krakatau

  • 08 Sep 2026 05:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pemerintah menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sebagai respons darurat terhadap sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau di wilayah Depok dan sekitarnya.
  • Orangtua siswa menilai kebijakan PJJ tepat karena dapat menjaga kesehatan anak dari paparan abu vulkanik sekaligus memastikan pembelajaran tetap berlanjut tanpa gangguan.
  • Heny, seorang warga Depok, mengapresiasi kebijakan PJJ sebagai keputusan yang bijak dan sesuai dengan kondisi lingkungan yang saat ini masih penuh dengan debu vulkanik.

RRI.CO.ID, Depok - Orang tua siswa menyambut positif kebijakan pemerintah menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), dampak sebaran abu vulkanik. Kebijakan belajar dari rumah dinilai tepat untuk melindungi kesehatan anak tanpa mengganggu proses pendidikan.

Kondisi lingkungan rumah warga di wilayah Depok mengalami penumpukan debu cukup tebal pada area teras hingga kendaraan. Pelaksanaan metode PJJ berlaku selama dua hari pada 7 sampai 8 September 2026.

Heny mengutarakan tanggapan mengenai efektivitas pelaksanaan pembelajaran jarak jauh bagi keselamatan anak. “PJJ benar-benar menjadi pilihan yang tepat sih, bijak banget lah untuk kondisi yang sekarang ini,” kata Heny kepada RRI.CO.ID, Selasa, 8 September 2026.

Heny menjelaskan skema belajar dari rumah mencegah anak terpapar kualitas udara buruk yang berpotensi memicu gangguan pernapasan. Perlindungan ekstra diberikan terutama bagi anak yang sedang mengalami keluhan batuk serta pilek.

“Karena bisa melindungi semuanya. Ibaratnya kita bisa menjaga anak-anak kita dari lingkungan luar yang udaranya lagi enggak bagus kan akibat abu vulkanik,” ujar Heny.

Heny menceritakan ketebalan endapan debu vulkanik yang menutupi berbagai fasilitas luar rumah di lingkungan tempat tinggalnya. Paparan material letusan gunung berapi menempel pekat pada pagar halaman hunian warga sekitar.

“Lingkungan rumah itu berdebu, berdebu parah banget. Teras, pagar rumah, mobil, itu berdebu banget, tebal banget debunya,” ucap Heny.

Heny mengungkapkan kekhawatiran orang tua terkait ancaman gejala sesak napas akut jika anak beraktivitas di luar ruangan. Pembatasan mobilitas fisik menjadi langkah antisipasi utama agar kondisi kesehatan anak tidak memburuk.

“Yang paling dikhawatirkan sebagai orang tua pastinya ini sih ya, gangguan pernapasan. Takut banget tiba-tiba jadi sesak, apalagi sekarang anak-anak lagi batuk pilek, takut memperparah kondisi aja dengan kondisi abu vulkanik di mana-mana,” katanya.

Heny mengakui adanya dinamika kesabaran saat mendampingi anak menyelesaikan tugas sekolah harian secara mandiri di rumah. Peran aktif orang tua sangat dibutuhkan demi menjaga semangat belajar anak selama masa darurat.

“Karena kita kan enggak bisa kayak guru ya, kalau mendampingi anak belajar tuh, emosinya beda sama guru,” ujarnya.

Warga Depok Diyah Ayu Arianti memberikan apresiasi atas respons cepat dinas pendidikan dalam menerbitkan kebijakan belajar daring. Keterangan pers dari wali murid Sekolah Dasar Negeri (SDN) Anyelir 1 disampaikan di Depok pada Senin, 7 September 2026.

"Kami menyambut baik kebijakan pemprov, dinas pendidikan dan sekolah yang akhirnya menerapkan PJJ selama dua hari, tanggal 7-8 September. Harapannya kondisi ini segera berlalu dan anak-anak dapat belajar optimal secara tatap muka," kata Diyah, Selasa 8 September 2026.

Masyarakat berharap kualitas udara di wilayah Jabodetabek segera membaik agar aktivitas persekolahan tatap muka dapat dibuka kembali. Evaluasi kondisi lingkungan terus dilakukan pihak sekolah bersama dinas terkait.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....