D’Las Serang Dinobatkan Jadi Wisata Ramah Muslim Berkelas Internasional
- 14 Agt 2026 10:03 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto – Pengembangan wisata ramah muslim terus menjadi perhatian seiring meningkatnya potensi pariwisata di Indonesia. Salah satunya dilakukan Desa Wisata Lembah Asri Serang (D’Las) Purbalingga yang terpilih sebagai salah satu dari 25 desa wisata ramah muslim di Indonesia tahun 2026 dan menjadi salah satu perwakilan Jawa Tengah.
Kepala Divisi IT D’Las Serang Purbalingga, Novanda Alim Setya Nugraha, mengatakan predikat ramah muslim bukan berarti destinasi hanya diperuntukkan bagi wisatawan muslim. Konsep tersebut lebih menekankan pada pelayanan dan fasilitas yang dapat memenuhi kebutuhan wisatawan, seperti makanan halal, penginapan ramah muslim, serta fasilitas ibadah yang memadai.
“Makna dari Desa Wisata Ramah Muslim itu bukan berarti yang berwisata harus orang muslim. Tapi penguatan dari inklusivitasnya, bagaimana Desa Wisata Ramah Muslim itu benar-benar punya basic pelayanan yang menguatkan dari segi sertifikasi halal, makanan, minuman, homestay syariah,” jelas Novanda dalam Dialog Kita Indonesia Pro 1 RRI Purwokerto, Kamis (13/8/2026).
Di D’Las, penerapan konsep tersebut terlihat dari 91 tenan makanan yang sedang dalam proses sertifikasi halal serta 26 titik homestay yang dikembangkan dengan konsep syariah. Fasilitas ibadah juga diperhatikan, mulai dari musala yang bersih, perlengkapan salat, hingga penyediaan waktu bagi wisatawan untuk menjalankan ibadah.
Penguatan pelayanan juga dilakukan melalui program Kampung Inggris Purbalingga. Karyawan dan pedagang dibekali kemampuan bahasa Inggris untuk mendukung komunikasi dengan wisatawan, termasuk wisatawan mancanegara. Menurut Novanda, kemampuan bahasa menjadi salah satu bagian penting dalam persiapan menuju standar internasional.
Selain fasilitas, hospitality menjadi bagian penting dalam pelayanan D’Las. Karyawan dan pedagang mendapat pelatihan pelayanan prima secara rutin, mulai dari cara berbicara, intonasi, senyum, salam, sapa, hingga membangun kedekatan dengan pengunjung. Pusat informasi juga disiapkan untuk membantu wisatawan ketika mengalami kendala selama berada di kawasan wisata.
“Karena sekuat apa pun sosmed yang dibuat, tapi yang namanya promosi yang kuat tetap namanya jalur lambe, Mbak,” ujarnya. Menurutnya, pengalaman langsung wisatawan menjadi bagian penting agar mereka memiliki kesan positif dan bersedia kembali atau merekomendasikan D’Las kepada orang lain.
Konsep ramah muslim di D’Las juga dikaitkan dengan keberlanjutan lingkungan. Pengelola mulai mengurangi penggunaan plastik dan menggantinya dengan perlengkapan yang dapat digunakan berulang kali. Upaya penanaman pohon juga dilakukan sebagai bentuk menjaga kembali alam yang menjadi bagian dari daya tarik wisata.
“Ini yang berkelanjutan ini yang memang menjadi PR bagi penguatan desa wisata. Jadi tidak hanya berpikir soal business orientation, tapi ada nature orientation,” kata Novanda.
Berbagai upaya tersebut menjadi bagian dari perjalanan D’Las menuju desa wisata ramah muslim berstandar internasional. Bagi Novanda, penguatan wisata ramah muslim tidak berhenti pada sertifikasi dan fasilitas, tetapi juga bagaimana pelayanan dibuat nyaman, inklusif, dan tetap terbuka bagi wisatawan muslim maupun nonmuslim. (Fauziyah)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....