Mengenal Filosofi Umah Wayang Kemukusan di Purbalingga
- 29 Jul 2026 10:43 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purbalingga - Umah Wayang Kemukusan di Desa Selakambang, Kecamatan Kaligondang, Kabupaten Purbalingga, menjadi salah satu destinasi wisata budaya yang memadukan museum wayang, ruang belajar seni, dan penelusuran situs sejarah dalam satu kawasan.
Tempat yang dirintis Kusno sejak 1992 itu awalnya merupakan sanggar seni. Seiring perkembangannya, Umah Wayang kemudian menjadi bagian dari Desa Wisata Budaya Selakambang yang memperoleh pengakuan sebagai desa wisata budaya pada 2017.
Kusno menjelaskan, nama Umah Wayang memiliki filosofi yang berkaitan dengan kehidupan manusia. Menurutnya, wayang tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga sarana untuk memahami diri sendiri.
“Umah itu rumah, wayang itu gegambaraning menungsa. Jadi kalau mau belajar diri sendiri, ya ke sini,” kata Kusno kepada RRI, Rabu (29/7/2026).
Ia menuturkan, filosofi tersebut juga tercermin dalam susunan wayang yang dipajang. Tokoh-tokoh berwatak baik ditempatkan di sisi kanan sebagai simbol kebaikan, sedangkan tokoh berwatak buruk berada di sisi kiri sebagai pengingat agar manusia dapat memilih jalan hidup yang benar.
Sementara itu, nama Kemukusan diambil dari situs yang berada di kawasan tersebut. Bentuk tanah di lokasi itu menyerupai kukusan atau alat penanak nasi tradisional sehingga menginspirasi penamaan Umah Wayang Kemukusan.
Saat ini, Umah Wayang Kemukusan terbagi menjadi tiga bagian. Umah Wayang 1 berfungsi sebagai museum yang menyimpan koleksi wayang, gamelan, manuskrip, dan benda budaya lainnya. Umah Wayang 2 digunakan sebagai ruang pembelajaran pedalangan dan karawitan, sedangkan Umah Wayang 3 mengelola sebelas situs sejarah yang tersebar di Desa Selakambang.
Kusno mengaku tantangan pada masa awal pendirian Umah Wayang adalah mengenalkan gagasan pelestarian budaya kepada masyarakat. Karena itu, ia melakukan sosialisasi kepada perangkat desa dan warga agar turut menjaga berbagai peninggalan budaya yang ada di wilayah tersebut.
Ke depan, ia berharap Umah Wayang Kemukusan dapat terus menjadi ruang edukasi sekaligus sarana mengenalkan budaya lokal kepada generasi muda. Menurutnya, budaya tidak hanya perlu dilestarikan, tetapi juga dikembangkan agar tetap relevan dengan perkembangan zaman. (Sofia Almas Meylani).
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....