Pendidikan Karakter Tidak Cukup Mengandalkan Kurikulum
- 22 Jul 2026 07:44 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto - Setiap kali kurikulum pendidikan berubah, harapan besar selalu menyertainya. Kurikulum baru diyakini mampu menjawab berbagai persoalan pendidikan, mulai dari peningkatan kualitas pembelajaran hingga pembentukan karakter peserta didik. Kurikulum Merdeka pun lahir dengan semangat tersebut. Tidak hanya berorientasi pada penguasaan kompetensi, kurikulum ini juga menempatkan penguatan karakter sebagai bagian penting dalam proses pendidikan.
Harapan itu tentu patut diapresiasi. Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital, pendidikan karakter menjadi kebutuhan yang semakin mendesak. Fenomena perundungan di sekolah, rendahnya etika bermedia sosial, meningkatnya intoleransi, hingga lunturnya kepedulian terhadap sesama menunjukkan bahwa persoalan pendidikan saat ini tidak cukup diselesaikan hanya dengan meningkatkan capaian akademik.
Namun, pertanyaan yang perlu diajukan adalah: apakah perubahan kurikulum dengan sendirinya mampu membentuk karakter peserta didik?
Jawabannya tampaknya tidak sesederhana itu.
Penelitian yang kami lakukan pada SMA dan SMK Muhammadiyah di Kabupaten Purbalingga menunjukkan bahwa implementasi penguatan karakter dalam Kurikulum Merdeka memang memiliki hubungan positif dengan karakter Islami peserta didik. Artinya, semakin baik pelaksanaan penguatan karakter dalam pembelajaran, semakin baik pula karakter yang ditunjukkan oleh peserta didik.
| Baca juga: Kurban di Era Digital: Mendidik Empati Siswa |
Akan tetapi, hubungan tersebut berada pada kategori sedang. Temuan ini memberikan pesan penting bahwa kurikulum memang berperan dalam membentuk karakter, tetapi bukan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilannya.
Karakter manusia tidak dibangun hanya melalui dokumen kurikulum.
Karakter tumbuh dari pengalaman hidup yang terus-menerus. Ia dibentuk melalui kebiasaan, lingkungan sosial, keteladanan orang dewasa, interaksi di keluarga, budaya sekolah, bahkan pengaruh media digital yang setiap hari hadir dalam kehidupan peserta didik. Oleh karena itu, sebesar apa pun perubahan kurikulum yang dilakukan pemerintah, hasilnya akan terbatas apabila tidak didukung oleh ekosistem pendidikan yang sehat.
Di sinilah pelajaran penting dapat dipetik dari pengalaman sekolah Muhammadiyah.
Selama lebih dari satu abad, Muhammadiyah mengembangkan pendidikan yang memadukan penguasaan ilmu pengetahuan dengan pembentukan akhlak. Di sekolah Muhammadiyah, pendidikan karakter tidak hanya diajarkan melalui mata pelajaran tertentu, tetapi dihidupkan dalam budaya sekolah. Nilai-nilai kejujuran, disiplin, tanggung jawab, kepedulian sosial, dan religiusitas diperkuat melalui pembiasaan ibadah, kegiatan sosial, pembelajaran Al-Islam, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab (ISMUBA), serta keteladanan guru dalam kehidupan sehari-hari.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kurikulum hanyalah salah satu instrumen pendidikan. Yang jauh lebih menentukan adalah bagaimana nilai-nilai yang terkandung di dalam kurikulum diterjemahkan menjadi budaya yang hidup di sekolah.
Guru, misalnya, memiliki posisi yang tidak dapat digantikan oleh dokumen kurikulum. Sehebat apa pun rancangan pembelajaran yang dibuat, peserta didik lebih mudah meniru perilaku guru dibandingkan menghafal materi yang diajarkan. Keteladanan tetap menjadi metode pendidikan yang paling efektif dalam membentuk karakter.
Demikian pula dengan keluarga. Sekolah hanya memiliki waktu terbatas untuk mendampingi peserta didik. Selebihnya, keluarga menjadi ruang utama tempat nilai-nilai kehidupan dibangun. Ketika sekolah menanamkan kejujuran, tetapi lingkungan keluarga menunjukkan praktik yang bertentangan, pendidikan karakter akan menghadapi tantangan yang tidak ringan.
Tantangan semakin kompleks di era digital. Peserta didik kini belajar bukan hanya dari guru dan orang tua, tetapi juga dari media sosial, kreator konten, dan komunitas digital yang mereka ikuti. Dalam banyak kasus, pengaruh lingkungan digital bahkan lebih dominan dibandingkan pembelajaran formal di sekolah. Oleh sebab itu, pendidikan karakter pada abad ke-21 tidak cukup dilakukan melalui penyampaian materi, melainkan harus membangun kemampuan peserta didik untuk berpikir kritis, menyaring informasi, dan mengambil keputusan berdasarkan nilai-nilai moral.
Karena itu, sudah saatnya pendidikan karakter dipahami sebagai tanggung jawab bersama. Pemerintah dapat menyusun kurikulum terbaik, sekolah dapat merancang pembelajaran yang inovatif, tetapi keberhasilannya sangat bergantung pada kolaborasi seluruh ekosistem pendidikan. Guru, kepala sekolah, orang tua, masyarakat, organisasi keagamaan, bahkan media massa memiliki kontribusi dalam membentuk karakter generasi muda.
Dalam konteks tersebut, Kurikulum Merdeka seharusnya dipandang sebagai titik awal, bukan tujuan akhir. Kurikulum memberikan arah dan ruang inovasi bagi sekolah, tetapi pembentukan karakter tetap membutuhkan budaya yang konsisten, keteladanan yang nyata, serta pembiasaan yang berlangsung setiap hari.
Pengalaman sekolah Muhammadiyah menunjukkan bahwa penguatan karakter akan lebih efektif ketika kurikulum dipadukan dengan budaya sekolah yang religius, pembiasaan perilaku positif, dan nilai-nilai yang terus dihidupkan dalam setiap aktivitas pendidikan. Model seperti ini tidak hanya relevan bagi sekolah Muhammadiyah, tetapi juga dapat menjadi inspirasi bagi berbagai satuan pendidikan di Indonesia yang sedang berupaya membangun generasi berkarakter.
Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari tingginya nilai ujian atau kemampuan peserta didik menjawab soal-soal akademik. Pendidikan yang berhasil adalah pendidikan yang mampu melahirkan manusia yang cerdas, berintegritas, memiliki kepedulian terhadap sesama, serta mampu mengambil keputusan berdasarkan nilai-nilai moral dalam menghadapi perubahan zaman.
Kurikulum dapat terus berubah mengikuti perkembangan masyarakat. Namun satu hal yang tidak boleh berubah adalah komitmen bahwa pendidikan harus membentuk manusia seutuhnya. Sebab karakter, bukan sekadar pengetahuan, akan menjadi bekal utama generasi muda dalam membangun masa depan bangsa. (Muhammad Sidiq Pambudi)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....