Literasi Digital Kritis Jadi Kunci Hadapi Era Kecerdasan Buatan

  • 23 Jun 2026 15:50 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas: Pesatnya perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) menghadirkan peluang sekaligus tantangan baru dalam dunia pendidikan. Di satu sisi, teknologi mempermudah akses informasi dan mendukung proses pembelajaran. Namun, penggunaan yang berlebihan berpotensi melemahkan kemampuan berpikir kritis peserta didik.

Isu tersebut menjadi salah satu perhatian yang diangkat dalam GLOBE 2026 International Conference yang diselenggarakan oleh Universitas Harapan Bangsa (UHB) Purwokerto. Melalui penelitian berjudul “Technology and Its Impacts on EFL Students’ Critical Thinking: A Systematic Literature Review”, dipaparkan bahwa teknologi dapat memberikan dampak positif maupun negatif terhadap kemampuan berpikir kritis dalam pembelajaran Bahasa Inggris.

Penelitian tersebut dipresentasikan oleh Hunain Sadabillah, mahasiswa Program Magister Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) sekaligus alumni Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Purwokerto.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknologi mampu memperluas akses terhadap beragam sumber informasi, mendukung pembelajaran berbasis inkuiri, mendorong kolaborasi, serta meningkatkan kemampuan reflektif peserta didik. Di sisi lain, ketergantungan yang berlebihan terhadap mesin pencari, sistem penerjemahan otomatis, dan AI generatif berpotensi mengurangi keterlibatan kognitif, kemampuan evaluatif, serta kemandirian belajar.

Temuan tersebut menegaskan bahwa teknologi bukanlah faktor yang secara otomatis meningkatkan ataupun menurunkan kemampuan berpikir kritis. Dampak yang dihasilkan sangat bergantung pada bagaimana teknologi diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, penguatan literasi digital kritis, pembelajaran berbasis inkuiri, dan pendampingan guru menjadi langkah penting agar teknologi berfungsi sebagai sarana pendukung, bukan pengganti proses berpikir peserta didik.

Keikutsertaan dalam GLOBE 2026 juga menjadi bagian dari upaya mendiseminasikan hasil penelitian Indonesia di forum akademik internasional sekaligus memperluas jejaring kolaborasi untuk menjawab tantangan pendidikan di era digital. Temuan ini diharapkan dapat menjadi pengingat bahwa di tengah pesatnya perkembangan AI, kemampuan berpikir kritis tetap menjadi keterampilan mendasar yang perlu terus dikembangkan oleh generasi muda.

Penulis: Hunain Sadabillah (mahasiswa Program Magister PBI UPI)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....