Pentingnya Menjaga Konsistensi Ibadah di Bulan Haji

  • 22 Mei 2026 14:27 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Purwokerto - Memasuki bulan Dzulhijjah, umat Islam dianjurkan untuk memaksimalkan berbagai ibadah sunnah yang memiliki keutamaan besar, terutama bagi mereka yang tidak sedang menjalankan ibadah haji. Tiga amalan utama yang dianjurkan adalah puasa Arafah, shalat Idul Adha, dan menyembelih hewan kurban sebagai bentuk penyempurnaan ibadah jasmani, rohani, serta harta.

Demikian disampaikan oleh Ustaz Drs. Daliman, M.Pd. selaku narasumber Mutiara Pagi Pro 1 FM RRI Purwokerto, Senin, (11/5/2026). Ia menjelaskan bahwa bulan Dzulhijjah membawa kesempatan emas untuk menambal kekurangan dalam ibadah wajib melalui amalan-amalan sunnah yang lengkap.

"Ibadah yang paling baik adalah yang kontinu atau berkelanjutan, meskipun jumlahnya sedikit. Sebaik-baik amal adalah yang langgeng walau sedikit," ujar Ustaz Daliman menekankan pentingnya istiqomah. Berikut adalah poin-poin penting mengenai ibadah sunnah di bulan Dzulhijjah :

Keutamaan Puasa Arafah dan Qurban

Ustaz Daliman merinci tiga ibadah sunnah utama. Pertama, puasa Arafah pada 9 Zulhijah yang mampu menghapuskan dosa selama dua tahun, yakni tahun lalu dan tahun yang akan datang. Kedua adalah melaksanakan salat Idul Adha pada 10 Dzulhijjah. Ketiga, menyembelih hewan kurban pada tanggal 10 hingga 13 Dzulhijjah (hari Tasyrik).

Terkait ibadah qurban, ia memberikan penekanan khusus bagi mereka yang mampu namun enggan berkorban. Mengutip sebuah hadist, ustaz Daliman mengingatkan agar mereka yang berkecukupan harta tidak meninggalkan ibadah ini karena merupakan tanda syukur yang sangat disukai Rasulullah.

Solusi Perbedaan Waktu dan Teknis Pembagian

Dalam sesi tanya jawab bersama pendengar, muncul pembahasan mengenai perbedaan waktu puasa Arafah antara Indonesia dan Arab Saudi. Ustaz Daliman menjelaskan bahwa mayoritas ulama masih merujuk pada kalender lokal sesuai tempat tinggal masing-masing.

Namun, ia mencatat adanya upaya global untuk menyatukan kalender Islam dunia demi keseragaman pelaksanaan ibadah ke depannya. Mengenai teknis pembagian daging kurban, shohibul qurban dianjurkan mengambil maksimal sepertiga bagian untuk dikonsumsi sendiri, sementara sisanya disedekahkan kepada fakir miskin dan dihadiahkan kepada kerabat atau tetangga.

"Nilai dari suatu ibadah kurban bukan hanya masalah daging atau kulitnya, melainkan keikhlasan kita dalam mengorbankan harta untuk beribadah kepada Allah," tuturnya.

Menyiapkan Niat Sejak Dini

Masyarakat diimbau untuk mulai menata niat sejak akhir bulan Dzulkaidah. Meskipun seseorang nantinya terhalang oleh kondisi kesehatan sehingga tidak bisa berpuasa, niat baik yang sudah tertanam tetap dicatat sebagai pahala di sisi Allah.

Ia juga mengingatkan dan mengedukasi masyarakat untuk tidak hanya memeriahkan hari raya secara seremonial, tetapi juga menghidupkan makna filosofis dan spiritual dari setiap rangkaian ibadah di bulan Dzulhijjah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....