Menyongsong Idul Adha dengan Semangat Saling Menghormati
- 25 Mei 2026 17:31 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purwokerto - Menyambut Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, umat Islam diajak untuk tidak sekadar menjadikan ibadah kurban sebagai ritual tahunan, melainkan sebagai momentum spiritual untuk memotong sifat-sifat hewani yang melekat pada diri manusia. Hal tersebut menjadi intisari dalam program Mutiara Pagi Pro1 RRI Purwokerto dengan menghadirkan penceramah Ustaz Drs. H. Ahmad Kifni, Kamis (14/5/2026).
Dalam siaran tersebut, ditegaskan bahwa esensi kurban yang sesungguhnya adalah menyembelih ego, memupuk keikhlasan, serta mengikis rasa cinta yang berlebihan terhadap dunia. Penceramah yang akrab disapa Ustaz Kifni ini memaparkan terdapat nilai-nilai hikmah utama dibalik syariat ibadah kurban.
Nilai-nilai tersebut meliputi kurban sebagai tanda cinta dan ketaatan kepada Allah, wujud syukur atas limpahan rezeki, serta ibadah yang diatur secara tertib oleh hukum fikih. Lebih lanjut, beliau menjelaskan dari sisi analisa ilmiah mengapa hewan jantan lebih diutamakan untuk dikurbankan, yakni demi melestarikan populasi dan menjaga proses pengembangbiakan hewan ternak agar tidak punah.
Hikmah lainnya adalah adanya fungsi sosial melalui pembagian daging, pemaknaan hewan sebagai alat kehidupan sekaligus alat ibadah, hingga puncaknya pada pembersihan jiwa dari karakter buruk. "Kurban itu memotong sifat-sifat hewani yang ada pada diri manusia. Jika tidak dikendalikan oleh agama, manusia bisa memiliki sifat hewani seperti rakus, buas, suka melukai, merusak, bertengkar, hingga yang kuat menerkam yang lemah karena hanya mengikuti hawa nafsu," ujar Ustaz Ahmad Kifni.
Ia menambahkan bahwa manusia dianugerahi akal pikiran agar hawa nafsunya dapat dikendalikan demi memunculkan fitrah kemanusiaan yang positif. Terkait adanya potensi perbedaan penetapan waktu Idul Adha antara metode hisab dan rukyat, Ustaz Kifni mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan mengedepankan sikap toleransi.
Berdasarkan hitungan hisab, Hari Raya Idul Adha diprediksi jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026, sementara metode rukyat masih harus menunggu hasil pemantauan wujudul hilal melalui sidang isbat pemerintah. Menurutnya, kedua metode tersebut sama-sama memiliki landasan hukum yang benar dalam Islam, sehingga tidak perlu memicu perpecahan di tengah umat.
Semangat berkurban ini juga diharapkan dapat diimplementasikan dalam kehidupan sosial sehari-hari melalui aksi nyata saling tolong-menolong (ta’awun). Bentuk konkretnya dapat diwujudkan dengan cara yang kaya membantu yang miskin, yang kuat menopang yang lemah, serta yang berilmu membimbing yang belum tahu.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....