Guru Sejarah dan Bahasa Jawa MGMP Jateng Kunjungi Kraton Majapahit Jakarta
- 01 Okt 2026 09:12 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas - Sebanyak 50 guru yang terdiri atas pengurus dan anggota Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sejarah dan Bahasa Jawa SMA se Provinsi Jawa Tengah melaksanakan kunjungan dan workshop kebudayaan di Kraton Majapahit Jakarta (KMJ) pada Selasa-Kamis 29 September-1 Oktober 2026.
Kegiatan tersebut menjadi momentum penting bagi para guru tersebut untuk memperluas wawasan mengenai sejarah, bahasa, aksara, serta warisan kebudayaan Nusantara, sekaligus menggali relevansinya bagi pembelajaran di tingkat SMA.
Salah satu agenda utama kegiatan adalah workshop dan pengenalan Aksara nusantara, disertai dengan penguatan pemahaman mengenai warisan kebesaran Majapahit dan gagasan penyatuan Nusantara yang menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah bangsa.
Penggagas KMJ Abdulah Mahmud Hendropriyono dalam sambutannya mengungkapkan bahwa aksara nusantara sangatlah penting keberadaannya.
"Sebelum Indonesia merdeka, aksara asli nusantara lah yang menyatukan bangsa ini dari Sabang sampai Merauke, bukan aksara latin," tandas mantan Kepala BIN itu.
Kegiatan semakin istimewa pada Rabu, 30 September 2026, dengan hadirnya Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti.
Kehadiran Mendikdasmen memberikan makna tersendiri bagi para guru yang tengah mengikuti kegiatan, khususnya dalam melihat keterkaitan antara pendidikan, kebudayaan, sejarah, dan pembangunan karakter generasi muda.
"Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menempatkan peningkatan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan serta penguatan budaya sebagai bagian penting dalam penguatan layanan pendidikan," ujar Sekum PP Muhammadiyah itu.
Bagi para guru tersebut, salah satu hal yang paling menarik dalam kunjungan tersebut adalah perhatian KMJ terhadap pemajuan Aksara Nusantara.
Para guru mendapatkan perspektif bahwa aksara tidak semata-mata merupakan perangkat untuk menuliskan bahasa. Aksara merupakan bagian dari perjalanan peradaban yang merekam pengetahuan, gagasan, tradisi, dan memori kolektif masyarakat Nusantara.
Karena itu, upaya mengenalkan dan mengembangkan kembali Aksara Nusantara memiliki arti penting bagi pendidikan. Generasi muda tidak hanya diajak mengenal bentuk aksara, tetapi juga memahami bahwa di balik setiap aksara terdapat perjalanan panjang kebudayaan dan intelektualitas masyarakat Nusantara.
Bagi guru Bahasa Jawa, momentum tersebut memiliki relevansi yang sangat kuat. Aksara Jawa sebagai salah satu bagian dari kekayaan aksara Nusantara dapat ditempatkan dalam konteks yang lebih luas, yaitu sebagai bagian dari tradisi literasi dan kebudayaan masyarakat Nusantara.
Sementara bagi guru sejarah, pengenalan aksara membuka perspektif baru mengenai pentingnya sumber-sumber tertulis dalam memahami perjalanan masyarakat masa lalu. Dengan demikian, sejarah, bahasa, dan aksara dapat dipertemukan dalam sebuah pembelajaran yang lebih kontekstual, integratif, dan bermakna.
Selain workshop Aksara Nusantara, para peserta juga memperoleh pengalaman melihat berbagai koleksi dan ilustrasi artefak yang merepresentasikan kebesaran peradaban Majapahit. Kehadiran berbagai representasi tersebut memberikan pengalaman belajar yang berbeda. Sejarah tidak hanya hadir dalam bentuk teks di buku pelajaran, tetapi dapat dihadirkan melalui visualisasi, artefak, simbol, aksara, dan ruang kebudayaan.
Ketua MGMP Sejarah SMA Provinsi Jawa Tengah, Rinto Budi Santosa menyampaikan apresiasi terhadap upaya Kraton Majapahit Jakarta dalam menghidupkan kembali warisan kebudayaan Majapahit.
“Kami sangat berkesan melihat bagaimana Kraton Majapahit Jakarta berupaya menghadirkan kembali representasi kebesaran Majapahit melalui berbagai koleksi dan ilustrasi artefak. Bagi kami para guru sejarah, hal ini sangat penting karena sejarah menjadi lebih hidup, lebih visual, dan lebih dekat dengan pengalaman belajar peserta didik,” ujar guru sejarah SMAN 1 Sapuran Wonosobo itu.
Menurutnya, warisan Majapahit tidak cukup hanya dipahami sebagai kejayaan sebuah kerajaan pada masa lampau. Yang lebih penting adalah bagaimana warisan tersebut dapat menjadi sumber pembelajaran untuk memahami perjalanan masyarakat Nusantara, keberagaman, interaksi antardaerah, serta gagasan tentang persatuan yang berkembang dalam sejarah.
Apresiasi serupa disampaikan Ketua MGMP Bahasa Jawa SMA Provinsi Jawa Tengah, Triana Kanthiwati. Ia memberikan perhatian khusus terhadap gagasan KMJ dalam mendorong pemajuan Aksara Nusantara.
“Aksara bukan sekadar alat untuk menulis. Di dalam aksara terdapat jejak peradaban, pengetahuan, nilai, dan memori kolektif masyarakat. Karena itu, ketika Aksara Nusantara kembali diperkenalkan dan dikembangkan, sesungguhnya kita sedang menghidupkan kembali bagian penting dari identitas kebudayaan bangsa,” ujar Kepala SMAN 1 Watumalang itu.
Masih menurut Triana, upaya tersebut memiliki arti penting bagi dunia pendidikan karena sekolah merupakan salah satu ruang strategis untuk memperkenalkan kembali kekayaan bahasa dan aksara kepada generasi muda.
Ia berharap gagasan pemajuan Aksara Nusantara dapat terus berkembang melalui kolaborasi antara lembaga kebudayaan, pemerintah, komunitas, akademisi, dan dunia pendidikan.
“Jangan sampai generasi muda mengenal budaya dunia tetapi justru semakin jauh dari akar kebudayaannya sendiri. Mengenalkan aksara berarti mengajak anak-anak kita mengenal kembali siapa mereka dan dari peradaban seperti apa mereka berasal,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....