Hadapi Kemarau Panjang, Petani Milenial Banyumas Jaga Produktivitas Cabai
- 16 Sep 2026 22:26 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas - Musim kemarau yang berlangsung cukup panjang tahun ini mulai dirasakan dampaknya oleh para petani cabai di Kabupaten Banyumas. Salah satunya Rangga Setiawan, petani milenial asal Desa Banjarsari Kulon, yang mengaku sudah hampir tiga bulan wilayahnya tidak diguyur hujan sama sekali.
Menurut Rangga, cuaca ekstrem seperti kemarau panjang ini jelas berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman cabai rawit merah miliknya. Dua persoalan utama yang muncul adalah minimnya ketersediaan air dan meningkatnya serangan hama.
"Kalau ini kan kebetulan kemaraunya cukup panjang ya, sudah hampir tiga bulan tidak ada turun hujan sama sekali. Jadi tentunya sangat berpengaruh terhadap tanaman," ujar Rangga kepada RRI, Rabu (16/9/2026).
Kondisi tersebut, menurutnya, secara langsung berimbas pada produktivitas panen. Tanaman yang kekurangan air maupun terserang hama tanpa penanganan yang baik akan menghasilkan panen yang tidak maksimal dibanding musim normal.
Rangga yang menggarap lahan seluas dua hektare dengan populasi sekitar 18 ribu tanaman per hektare menyebut, pada musim hujan dalam kondisi normal produksi bisa mencapai 10 hingga 12 ton. Namun, jika cuaca ekstrem, hasil panen bisa anjlok di bawah 9 ton.
“Di musim kemarau, selama ketersediaan air masih tercukupi dan serangan hama dapat dikendalikan, hasil panen bisa mendekati capaian musim hujan,” tutur Rangga.
Lebih lanjut, Rangga menilai bahwa musim hujan dan musim kemarau sama-sama punya kelebihan dan kekurangan masing-masing bagi petani cabai. Di musim hujan, ketersediaan air melimpah dan nutrisi dari air hujan dinilai lebih baik untuk pertumbuhan tanaman maupun kualitas buah. Namun risikonya, tanaman lebih rentan terserang jamur dan penyakit yang bisa membuatnya mati mendadak.
Sebaliknya, di musim kemarau, tanaman cabai relatif lebih tahan meski produktivitasnya menurun karena kekurangan air. Ancaman utamanya justru datang dari hama, bukan penyakit yang mematikan.
"Kelebihannya biasanya kalau kena musim kemarau cuma kena hama. Jadi tanaman mungkin produktivitasnya tidak maksimal, tapi dia masih hidup. Jadi ketika nanti ketemu musim hujan, bisa dimaksimalkan lagi," jelasnya.
Menghadapi kemarau panjang seperti saat ini, Rangga membagikan tipsnya bagi sesama petani milenial. Menurutnya, kemudahan akses informasi saat ini harus dimanfaatkan petani muda untuk mempersiapkan segala hal secara matang, bukan hanya soal sistem budi daya dan pemupukan, tetapi juga membaca kondisi lingkungan sekitar lahan.
"Kita juga harus tahu mengenai situasi lingkungan kita, cuaca, kemudian kondisi ketersediaan air di lahan kita. Kita juga harus memetakan itu, menyiapkan itu semua," katanya.
Ia mencontohkan, dengan mengetahui prediksi cuaca dari BMKG sejak awal, petani bisa memperkirakan musim apa yang akan dihadapi selama masa tanam hingga panen, yang untuk cabai biasanya berlangsung sekitar tiga bulan. Dengan begitu, persiapan bisa dilakukan sebelum dampak kemarau benar-benar terasa, bukan setelah tanaman terlanjur terdampak.
"Jadi persiapannya itu tidak saat sudah kena, tetapi sebelum. Jadi kita sudah punya bekal yang cukup untuk perang di medan perang," ucap Rangga.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....