Pasien STEMI Terlambat Datang Jadi Kendala, Penanganan Terus Diperkuat

  • 16 Sep 2026 15:51 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas — Penanganan pasien serangan jantung STEMI masih menghadapi sejumlah kendala di lapangan. Keterlambatan pasien datang menjadi salah satu faktor yang memengaruhi proses penanganan.

Kepala Departemen Jantung RS Dustira, Mayor CKM dr. Nizarduddin Ubaidillah, mengatakan pasien STEMI masih banyak datang terlambat. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam pemberian tindakan Primary PCI.

“Tantangan terbesar kami dari lapangan, angka kita STEMI itu 1.637,” ujarnya. Dari jumlah tersebut, sebanyak 807 pasien menjalani Primary PCI.

Menurut Nizarduddin, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan tindakan tidak dapat segera dilakukan. Selain keterlambatan pasien, persetujuan keluarga dan penolakan pasien juga menjadi kendala.

“Yang kedua, aspek yang sering adalah tunggu keluarga, persetujuan,” katanya. Ia menambahkan, sebagian pasien juga sempat menolak tindakan meski sudah mendapatkan penjelasan.

Capaian door-to-balloon di rumah sakit tersebut disebut mencapai sekitar 88 persen. Angka tersebut belum mencapai 100 persen karena terdapat kondisi klinis yang membutuhkan pertimbangan khusus.

Nizarduddin menjelaskan, pasien STEMI dengan kondisi syok tidak dapat langsung ditangani secara tergesa-gesa. Kondisi lain seperti edema paru akut dan stroke juga membutuhkan pertimbangan medis sebelum tindakan.

Menurutnya, setiap tindakan dilakukan berdasarkan indikasi klinis dan keselamatan pasien. Pemeriksaan klinis dan laboratorium menjadi dasar dalam menentukan tindakan yang diberikan.

Layanan jantung di rumah sakit tersebut mencakup Coronary Angiography dan Percutaneous Coronary Intervention atau PCI. Tercatat 324 tindakan Coronary Angiography dan 908 kasus PCI dilakukan.

Data pelayanan juga mencatat 36.769 kunjungan pasien JKN di rumah sakit tersebut. Sebanyak 3.941 pasien merupakan rujukan dari rumah sakit lain untuk mendapatkan tindakan lebih lanjut.

Selain kateterisasi, rumah sakit juga menyediakan pemeriksaan Holter untuk kebutuhan pasien dengan gangguan irama jantung. Layanan ABPM turut disiapkan untuk mendukung pemeriksaan dan pemantauan hipertensi.

Nizarduddin menegaskan pelayanan jantung tetap mengutamakan kebutuhan medis dan keselamatan pasien. “Kebutuhan klinis harus didasarkan pada kebutuhan medis, indikasi, dan keselamatan pasien,” ujarnya. (Nurul Saputri)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....