Mahasiswa UMP Kembangkan Incinerator untuk Atasi Sampah Desa

  • 09 Sep 2026 21:03 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas - Persoalan keterbatasan sarana pengelolaan sampah mendorong mahasiswa Himpunan Mahasiswa Teknik Kimia (HMTK) Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) mengembangkan alat incinerator di Desa Banjarparakan. Inovasi tersebut diterapkan sepanjang Agustus 2026 melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa).

Ketua Tim PPK Ormawa HMTK UMP, Muhammad Arfan Shiddiq, mengatakan pengembangan alat tersebut berangkat dari kondisi pengelolaan sampah di Desa Banjarparakan yang masih menghadapi sejumlah kendala.

Desa tersebut belum memiliki Tempat Penampungan Sementara (TPS) yang memadai sehingga sebagian sampah rumah tangga masih dibuang secara sembarangan. Selain mengganggu kebersihan lingkungan, kondisi tersebut berpotensi menyumbat saluran air dan menimbulkan persoalan lingkungan lainnya.

Melalui program tersebut, mahasiswa HMTK UMP bersama warga kemudian mengembangkan incinerator yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat. Warga dilibatkan sejak proses pengembangan agar tidak hanya menerima fasilitas, tetapi juga memahami cara penggunaannya dan memiliki keterampilan dalam pengelolaan sampah.

"Selama ini, desa belum memiliki Tempat Penampungan Sementara (TPS) yang memadai sehingga sebagian sampah rumah tangga masih ditemukan dibuang secara sembarangan. Kondisi tersebut tidak hanya menurunkan kebersihan dan kualitas lingkungan, tetapi juga berpotensi menyebabkan penyumbatan saluran air serta menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan lainnya," uajr Arfan.

Dosen Pendamping PPK Ormawa HMTK UMP, Dini Nur Afifah, M.Eng., mengatakan incinerator diharapkan dapat menjadi salah satu fasilitas pendukung pengelolaan sampah di Desa Banjarparakan, khususnya untuk jenis sampah yang sesuai untuk diolah melalui proses pembakaran.

Menurutnya, keberadaan alat tersebut tetap perlu ditempatkan sebagai bagian dari sistem pengelolaan sampah secara menyeluruh. Penanganan sampah juga perlu dimulai dari upaya mengurangi timbulan, memilah, menggunakan kembali material yang masih dapat dimanfaatkan, hingga mengolah residu yang tidak bisa dimanfaatkan.

"Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya mendorong kesadaran masyarakat bahwa persoalan sampah memerlukan penanganan bersama, mulai dari pengurangan timbulan sampah, pemilahan, pemanfaatan kembali, hingga pengolahan residu yang tidak dapat dimanfaatkan," ucapnya

Perwakilan masyarakat Desa Banjarparakan, Sartun, mengatakan fasilitas tersebut membantu warga menghadapi keterbatasan sarana pengelolaan sampah yang selama ini menjadi salah satu persoalan di desa.

Keterlibatan warga dalam proses pengembangan juga dinilai penting untuk menumbuhkan rasa memiliki. Dengan demikian, fasilitas yang telah dibuat dapat dimanfaatkan sekaligus dirawat secara berkelanjutan.

"Keberadaan fasilitas pengolahan sampah ini dapat membantu masyarakat dalam menghadapi keterbatasan sarana pengelolaan sampah yang selama ini menjadi salah satu permasalahan di desa kami," tutur Sartun.

Program ini juga menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah dalam menghadapi persoalan lingkungan di lapangan. Pengembangan teknologi dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan dan kondisi masyarakat setempat.

Ke depan, keberadaan incinerator diharapkan dapat mendukung pengelolaan sampah yang lebih tertata di Desa Banjarparakan. Pemanfaatannya juga perlu diikuti dengan pemilahan dan pengurangan sampah agar pengelolaan lingkungan dapat berjalan secara berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....