UMP Kembangkan Olahan Ikan Nila untuk Cegah Anemia
- 07 Sep 2026 11:38 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas – Ikan nila hasil budi daya masyarakat Desa Kalisalak, Kabupaten Banyumas, mulai dikembangkan menjadi sejumlah produk pangan bernilai gizi. Upaya tersebut dilakukan Tim PPK Ormawa BEM Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) melalui Program Dapur Sehat dan Inovasi Pembuatan Produk Anti Anemia atau PRO-INOVENA.
Program tersebut diwujudkan melalui demonstrasi pengolahan ikan nila menjadi otak-otak dan bakso ikan bersama perwakilan kader PKK Desa Kalisalak.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mengembangkan hasil BU NILA (Budidaya Nutrisi Ikan Lokal Anti Anemia) agar tidak hanya dikonsumsi sebagai ikan segar, tetapi juga dapat diolah menjadi produk pangan yang lebih beragam dan memiliki nilai ekonomi.
Sebelum praktik pengolahan, Tim PPK Ormawa memberikan edukasi mengenai manfaat ikan nila bagi kesehatan, khususnya dalam mendukung pemenuhan gizi untuk mencegah anemia.
Anggota Tim PPK Ormawa, Tasya Suci Rahmadani, menjelaskan ikan nila merupakan salah satu sumber protein hewani yang juga mengandung zat besi dan vitamin B12. Kedua zat gizi tersebut berperan dalam pembentukan sel darah merah.
“Zat besi dibutuhkan dalam pembentukan hemoglobin, sedangkan vitamin B12 berperan dalam pembentukan sel darah merah yang normal. Oleh karena itu, pemanfaatan ikan nila sebagai bagian dari konsumsi pangan bergizi diharapkan dapat mendukung pemenuhan zat gizi yang diperlukan dalam upaya mencegah anemia,” kata Tasya.
Setelah mendapatkan edukasi, peserta mengikuti praktik pengolahan ikan nila menjadi otak-otak dan bakso. Tahapannya meliputi persiapan bahan, pengolahan daging ikan, pencampuran bahan, pembentukan produk hingga proses pemasakan.
Kader PKK Desa Kalisalak juga terlibat langsung dalam seluruh proses tersebut. Keterlibatan ini diarahkan untuk meningkatkan keterampilan kader sehingga dapat meneruskan pengetahuan dan inovasi pengolahan pangan kepada masyarakat secara mandiri.
Otak-otak dan bakso dipilih karena dapat dikonsumsi berbagai kelompok usia dan berpeluang dikembangkan sebagai produk olahan rumah tangga.
Yasmine Aurellia menilai kader PKK memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan program. Setelah mendapatkan pelatihan, kader diharapkan tidak hanya menerapkan keterampilan untuk kebutuhan pangan keluarga, tetapi juga mengembangkan produk olahan ikan nila sebagai peluang usaha.
“Dengan melibatkan kader lokal sejak proses pelatihan, keberlanjutan program tidak hanya bergantung pada pendampingan mahasiswa, tetapi mulai dibangun melalui kapasitas masyarakat Desa Kalisalak sendiri,” ujar Yasmine.
Menurutnya, pengembangan PRO-INOVENA juga diarahkan untuk menghubungkan potensi pangan lokal dengan aspek kesehatan, keterampilan dan ekonomi. Hasil budidaya ikan nila dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan, kemudian diolah menjadi produk yang lebih beragam dan bernilai tambah.
Tim PPK Ormawa BEM Fakultas Farmasi UMP berharap program tersebut tetap dikembangkan masyarakat Desa Kalisalak setelah masa pendampingan mahasiswa berakhir. Kader PKK yang telah mendapatkan pelatihan diharapkan dapat menjadi penggerak dalam mengembangkan berbagai olahan ikan nila lainnya.
“Ke depan, sinergi antara BU NILA sebagai sumber bahan pangan lokal dan PRO-INOVENA sebagai program pengolahan pangan diharapkan dapat menjadi salah satu model pemberdayaan masyarakat yang mengintegrasikan aspek kesehatan, ketahanan pangan, keterampilan, dan ekonomi,” kata Yasmine.
Pengembangan olahan ikan nila ini menjadi bagian dari upaya mendorong pemanfaatan pangan lokal di Desa Kalisalak. Melalui keterlibatan masyarakat, hasil budidaya diharapkan dapat memberikan manfaat lebih luas sekaligus mendukung upaya pencegahan anemia dan penguatan kemandirian pangan desa.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....