Petani Limbangan Manfaatkan Limbah Jagung untuk Pupuk Organik dan Biopestisida
- 30 Agt 2026 22:28 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Purbalingga - Limbah kulit jagung yang selama ini menjadi sisa pertanian mulai memberikan manfaat baru bagi petani di Desa Limbangan, Kecamatan Kutasari, Kabupaten Purbalingga. Melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), dosen Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali (UNUGHA) Cilacap mendampingi Kelompok Tani Ngudi Makmur mengolah limbah tersebut menjadi Pupuk Organik Cair (POC) dan biopestisida.
Program tersebut kembali ditinjau melalui kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) pada Kamis, 27 Agustus 2026. Monev dilakukan oleh Prof. Dr. Eng., Ir. Imam Tahyudin, S.Si., M.Kom., M.M dan pihak kampus UNUGHA Cilacap, untuk melihat ketercapaian program, efektivitas pelatihan, serta keberlanjutan pemanfaatan limbah kulit jagung oleh kelompok tani.
Sebelumnya, pada 8 Agustus 2026, Tim PKM UNUGHA telah memberikan pelatihan dan praktik langsung pembuatan pupuk cair berbahan dasar limbah kulit jagung. Petani diajak memanfaatkan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar agar dapat memproduksi pupuk secara mandiri.
Tidak hanya memberikan pelatihan, tim juga menyerahkan bantuan berupa tangki air dan peralatan pembuatan pupuk cair kepada Kelompok Tani Ngudi Makmur. Bantuan ini diharapkan dapat mendukung kelompok tani untuk melanjutkan produksi secara mandiri setelah program pendampingan selesai.
Hasil Monev menunjukkan, transfer teknologi yang dilakukan tim telah berjalan. Kelompok tani telah mendapatkan pelatihan dan pendampingan pembuatan POC serta biopestisida berbahan dasar limbah kulit jagung melalui metode fermentasi.
Pengolahan tersebut juga mulai memberikan dampak terhadap lingkungan. Volume limbah kulit jagung pascapanen di sekitar area pertanian warga berkurang melalui proses pencacahan dan pengolahan yang lebih ramah lingkungan.
Bagi petani, inovasi ini tidak hanya berbicara tentang pengelolaan limbah. Pemanfaatan kulit jagung menjadi pupuk dan biopestisida juga dinilai berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap pupuk dan pestisida kimia sintetis sekaligus menekan biaya produksi pertanian.
Kelompok Tani Ngudi Makmur pun menyambut positif program tersebut. Sebelumnya, Ketua Kelompok Tani menyampaikan apresiasi atas bantuan dan pendampingan UNUGHA serta berharap pengetahuan dan peralatan yang diberikan dapat dimanfaatkan untuk memproduksi pupuk secara mandiri.
Namun, hasil Monev juga menunjukkan masih ada pekerjaan lanjutan. Tim evaluator merekomendasikan pengujian laboratorium untuk mengetahui kualitas kandungan hara POC dan efektivitas biopestisida. Penguatan pemasaran digital serta desain kemasan juga dinilai penting agar produk yang dihasilkan memiliki nilai jual lebih tinggi.
Ketua Pelaksana PKM Ichya Musytafizur Ziqri, S.Pd., M., Si, bersama anggota dosen Arnesya Ramadhani, S.T., M.T dan Anisha Dian Iswahyuni, S.T,. M.Sc serta mahasiswa, menjadi bagian dari tim yang menjalankan program tersebut. Kegiatan ini didanai Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemenristekdiktisaintek).
Melalui rangkaian pelatihan, praktik, pendampingan hingga monitoring dan evaluasi, Tim PKM UNUGHA berharap inovasi pemanfaatan limbah kulit jagung tidak berhenti sebagai kegiatan pelatihan.
“Program ini diharapkan berkembang menjadi praktik berkelanjutan yang mampu mengurangi limbah, menekan biaya usaha tani, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi kelompok tani,” kata Ichya.
Pemanfaatan limbah pertanian pun diharapkan dapat menjadi langkah sederhana dari Desa Limbangan untuk membangun pertanian yang lebih ramah lingkungan dan bernilai ekonomi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....