Banyumas Perkuat Penanganan Sampah Plastik di Sungai Serayu
- 22 Agt 2026 10:56 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas: Pemerintah Kabupaten Banyumas menegaskan pentingnya pengelolaan sampah plastik secara terpadu. Hal itu dilakukan untuk menjaga kelestarian Sungai Serayu yang menjadi salah satu sumber utama ekosistem wilayah di Jawa Tengah.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Baperinda) Kabupaten Banyumas, Deddy Nurhasan, menyampaikan bahwa sampah plastik memiliki kontribusi sekitar 10 persen dari total sampah yang dihasilkan masyarakat. Meski terlihat kecil, menurutnya, dampak yang ditimbulkan sangat besar apabila tidak dikelola dengan baik.
“Kalau tidak dikelola dengan baik, sampah plastik bisa berdampak besar terhadap lingkungan, ekosistem, dan lainnya. Karena itu, kita harus mulai merencanakan pengelolaan sampah, termasuk jenis plastik,” ujarnya.
Deddy menjelaskan, Sungai Serayu merupakan muara dari sejumlah daerah aliran sungai (DAS), seperti DAS Logawa, DAS Tipar, dan lainnya. Kondisi ini membuat seluruh wilayah yang dilalui aliran Serayu berpotensi menyumbang sampah, termasuk plastik.
“Semua wilayah yang dihuni masyarakat pasti menghasilkan sampah. Karena itu, pengelolaan harus dilakukan secara menyeluruh,” ucapnya.
Ia juga menekankan bahwa penanganan sampah di Sungai Serayu tidak bisa dilakukan oleh satu daerah saja. Diperlukan keterlibatan lintas wilayah dari hulu hingga hilir, mulai dari Temanggung, Wonosobo, Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, hingga Cilacap.
Menurutnya, apa yang terjadi di wilayah hulu akan berdampak hingga ke hilir, bahkan sampai ke laut. Oleh karena itu, kesepahaman antar daerah menjadi kunci dalam pengelolaan sampah sungai.
“Kalau hanya satu wilayah yang bergerak, hasilnya tidak akan optimal. Ini harus menjadi kesepakatan bersama semua pihak yang dilintasi sungai,” katanya, menegaskan.
Deddy juga menyoroti kebiasaan masyarakat yang masih menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah karena dianggap praktis. Padahal, kebiasaan tersebut dapat menimbulkan dampak serius seperti pendangkalan sungai dan kerusakan lingkungan.
“Kadang orang berpikir membuang sampah ke sungai itu mudah, tapi dampaknya besar dan panjang,” ujarnya.

Dalam upaya pencegahan, Pemerintah Kabupaten Banyumas telah membentuk Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) dan Asosiasi Sampah Masyarakat (ASM) untuk mengelola Tempat Pengelolaan Sampah (TPS) serta sistem 3R (reduce, reuse, recycle) di berbagai wilayah.
Selain itu, regulasi berupa Peraturan Bupati tentang pengelolaan dan pemilahan sampah juga telah diterapkan sebagai dasar hukum pengelolaan sampah di daerah tersebut.
“Regulasi sudah ada, perencanaan juga sudah berjalan. Sekarang tinggal aksi nyata di lapangan,” katanya.
Ia menambahkan, Banyumas saat ini terus berupaya menjadi daerah percontohan dalam pengelolaan sampah di Indonesia. Banyak daerah lain disebut telah belajar dari sistem pengelolaan sampah yang diterapkan di Banyumas.
“Banyumas harus bisa menjadi contoh yang baik. Karena itu kita harus bekerja lebih keras agar pengelolaan sampah semakin optimal,” katanya.
Deddy juga mengajak masyarakat untuk lebih aktif dalam memilah dan mengelola sampah sejak dari rumah tangga. Menurutnya, setiap individu memiliki tanggung jawab terhadap sampah yang dihasilkan.
“Setiap orang menghasilkan sampah, maka setiap orang juga harus bertanggung jawab. Kalau tidak, dampaknya bisa menjadi bencana,” ujarnya.
Ia berharap seluruh sarana dan prasarana yang telah disiapkan pemerintah dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat.
“Insya Allah fasilitas sudah tersedia, tinggal bagaimana masyarakat ikut berperan aktif, terutama dalam pengelolaan sampah plastik,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....