Kader PKK Banjarparakan Dilatih Olah Sampah Jadi Pupuk Organik Cair

  • 14 Agt 2026 17:49 WIB
  •  Purwokerto

RRI.CO.ID, Banyumas - Sebanyak 30 kader PKK Desa Banjarparakan, Kecamatan Rawalo, Banyumas, belajar mengolah sampah dapur menjadi pupuk organik cair (POC). Pelatihan yang digelar Tim PPK Ormawa HMPS Teknik Kimia Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) tersebut berlangsung di Aula Balai Desa Banjarparakan.

Kegiatan merupakan bagian dari program pemberdayaan masyarakat yang berlangsung selama Juli hingga Agustus 2026. Program tersebut diarahkan untuk membantu masyarakat mengurangi persoalan sampah rumah tangga di Desa Banjarparakan.

Di desa tersebut belum tersedia tempat penampungan sementara, sementara sampah rumah tangga diperkirakan mencapai sekitar 8 ton setiap bulan. Sebagian sampah masih menumpuk di sekitar permukiman dan dibuang di sekitar Sungai Sungkalan, sehingga berpotensi menyumbat drainase, menimbulkan genangan, dan menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.

Ketua tim pelaksana, Muhammad Arfan Shodiq, mengatakan sampah dapur masih dapat dimanfaatkan menjadi produk yang berguna jika diolah dengan cara yang tepat.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa sampah dapur tidak selalu harus berakhir di tempat pembuangan. Dengan bahan dan peralatan yang sederhana, sampah organik dapat diolah menjadi pupuk organik cair yang bermanfaat untuk tanaman,” ujarnya.

Dalam pelatihan, peserta dikenalkan dengan bahan pembuatan POC, yaitu sampah sayuran, daun kering, air cucian beras, molase, EM4, dan kompos. Kader PKK kemudian mempraktikkan proses pembuatannya, mulai dari mencacah bahan organik, mencampurkan bahan, menambahkan larutan fermentasi, hingga memasukkannya ke dalam fermentor.

Fermentor yang digunakan dibuat dari dua galon plastik bekas. Galon bagian atas digunakan sebagai ruang fermentasi, sedangkan bagian bawah menjadi tempat menampung cairan hasil fermentasi. Pada bagian bawah juga dipasang kran untuk memudahkan pengambilan POC.

Koordinator lapangan program, Wahyu Dwi Saputra, mengatakan penggunaan galon bekas dipilih karena mudah dibuat dan tidak membutuhkan biaya besar.

“Kami tidak hanya mengenalkan bahan-bahan pembuatan POC, tetapi juga mendampingi peserta dalam mencampur bahan, menyusun fermentor dua galon, serta memahami cara pemeliharaan dan pemanenannya. Harapannya, kader PKK dapat mempraktikkan kembali teknologi ini di rumah dan menyebarluaskannya kepada warga lain,” katanya.

Peserta juga mendapat penjelasan mengenai perawatan fermentor selama proses fermentasi. Fermentor perlu ditempatkan di lokasi teduh dan tidak terkena sinar matahari langsung. Peserta diajarkan mengamati perubahan warna, aroma, suhu, serta pembentukan gas sebagai indikator proses fermentasi.

Wahyu menjelaskan POC umumnya dapat dipanen setelah fermentasi berlangsung sekitar satu hingga tiga minggu. Cairan yang matang biasanya berwarna cokelat, tidak menimbulkan bau busuk menyengat, dan pembentukan gas mulai berkurang.

POC tersebut dapat digunakan untuk tanaman pekarangan, tanaman hias, sayuran, dan kegiatan pertanian rumah tangga setelah diencerkan sesuai kebutuhan. Sementara residu padat yang tersisa dalam fermentor dapat dimanfaatkan sebagai bahan kompos.

Ketua PKK Desa Banjarparakan menyambut baik pelatihan tersebut karena keterampilan yang diberikan dapat langsung diterapkan di rumah.

“Selama ini sampah dapur biasanya langsung dibuang. Setelah mengikuti pelatihan, kami mengetahui bahwa sisa sayuran, daun kering, dan air cucian beras dapat diolah menjadi pupuk. Alat yang digunakan juga sederhana sehingga memungkinkan untuk dibuat dan digunakan oleh ibu-ibu di rumah,” tuturnya.

POC yang dihasilkan nantinya akan digunakan sebagai pupuk pada kebun hidroponik milik PKK Desa Banjarparakan. Pemanfaatan tersebut menjadi bagian dari rencana keberlanjutan program, mulai dari pemilahan sampah, pengolahan, hingga penggunaan hasilnya untuk kegiatan pertanian.

Dosen pendamping, Dini Nur Afifah, M.Eng., mengatakan keberlanjutan program bergantung pada konsistensi masyarakat dalam menerapkan keterampilan yang telah diperoleh.

“Kader PKK memiliki peran strategis karena berhubungan langsung dengan pengelolaan rumah tangga. Kami berharap keterampilan ini dapat terus dipraktikkan, dikembangkan, dan disebarluaskan. Penggunaan POC untuk kebun hidroponik PKK juga menjadi langkah penting agar hasil pelatihan benar-benar memberikan manfaat yang berkelanjutan,” ujarnya.

Melalui kegiatan tersebut, kader PKK diharapkan dapat membantu mengurangi sampah rumah tangga sekaligus menghasilkan pupuk alternatif untuk tanaman di lingkungan desa. Tim PPK Ormawa HMPS Teknik Kimia UMP juga akan melanjutkan pendampingan selama program berlangsung hingga Agustus 2026.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....