Libur Kampus, Omzet Warung Makan dan Fotokopi Anjlok
- 06 Agt 2026 11:40 WIB
- Purwokerto
RRI.CO.ID, Banyumas: Libur semester membawa dampak besar bagi pelaku usaha di sekitar kampus UIN. Warung makan dan jasa fotocopy mengalami penurunan jumlah pelanggan hingga omzet karena mayoritas konsumen mereka adalah mahasiswa.
Warung Mamake yang berada di sekitar kampus UIN mengaku mengalami penurunan pelanggan secara drastis setiap kali mahasiswa memasuki masa libur semester. Kondisi tersebut semakin terasa setelah adanya kebijakan mahasiswa yang tidak lagi diwajibkan tinggal di pondok.
Pemilik Warung Mamake, Siti, mengatakan warungnya telah beroperasi sejak 10 Maret 2017 dan sebagian besar pelanggan berasal dari kalangan mahasiswa. Saat perkuliahan berlangsung, warungnya mampu melayani ratusan pembeli setiap hari.
“Kalau misalkan hari-hari biasa, itu kan bisa sampai 300 sampai 400 konsumen. Tapi kalau libur hanya di bawah 30-an,” tutur Siti.
Siti menjelaskan pandemi Covid-19 menjadi awal turunnya pendapatan usahanya. Sebelum pandemi, omzet warung bahkan mampu mencapai Rp7 hingga Rp8 juta per hari. Namun setelah pandemi dan kebijakan kampus yang tidak lagi mewajibkan mahasiswa mondok, pendapatan terus mengalami penurunan.
“Kalau omzet sebelumnya, misalkan sebelum Corona, kita bisa mencapai 7 sampai 8 juta per hari. Tapi setelah Corona turun. Setelah ada kebijakan tidak wajib mondok turun lagi. Dari sebelum Corona sampai sekarang bisa turun sampai 50 persen,” ungkap Siti.
Untuk bertahan selama masa libur semester, Warung Mamake belum memiliki strategi khusus selain tetap melayani pesanan antar atau delivery order. Berkurangnya pelanggan juga berdampak pada jumlah tenaga kerja.
“Kita tidak ada strategi apa pun. Paling pelayanan delivery order. Sebelum Corona karyawan ada 12 orang, sekarang kalau kampus libur yang masuk hanya satu orang bagian masak,” katanya.
Meski harga bahan pokok terus meningkat, Siti memilih tidak mengurangi porsi makanan. Menurutnya, penyesuaian hanya dilakukan berdasarkan banyaknya makanan yang diambil pelanggan.
“Kalau porsi enggak dikurangi. Sekarang memang pengambilannya kita lihat dari porsinya masing-masing,” ujarnya.
Kondisi serupa juga dirasakan usaha fotokopi di sekitar kampus. Pemilik Fotokopi Andestal, Faisal, mengatakan usahanya telah berdiri sejak tahun 1995 dan masih bergantung pada aktivitas mahasiswa.
Menurut Faisal, periode paling ramai terjadi saat mahasiswa baru menjalani orientasi, menjelang ujian, hingga setelah pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN).
“Habis Agustus, masuk September biasanya mahasiswa baru untuk ospek. Setelah itu menjelang ujian, lalu selesai KKN juga lumayan ramai buat cetak buku dan jilid,” kata Faisal.

Meski berada di lokasi strategis, Faisal mengaku keuntungan usaha fotokopi tidak terlalu besar karena pendapatan berasal dari biaya per lembar. Ia enggan menyebut nominal omzet, namun memastikan usahanya masih mampu memenuhi kebutuhan operasional.
“Kalau keuntungan fotokopi itu sebenarnya sedikit. Yang penting bisa bayar karyawan, bayar listrik, menyekolahkan anak, dan menyambung hidup,” ujarnya.
Faisal juga menyoroti perubahan sistem pembelajaran yang semakin mengandalkan teknologi digital. Menurutnya, penggunaan dokumen elektronik membuat kebutuhan fotokopi terus berkurang.
“Sekarang belajar sudah banyak yang online. Kalau nanti skripsi juga tidak perlu dicetak lagi, otomatis omzet tempat fotokopi akan benar-benar turun. Dari sekarang saja potokopian semakin ke sini semakin berkurang,” ungkapnya.
Meski menghadapi tantangan tersebut, Faisal tetap mempertahankan usahanya dengan jam operasional yang panjang, mulai pukul 05.00 hingga 22.00 WIB. Ia berharap aktivitas perkuliahan kembali meningkat sehingga usaha-usaha di sekitar kampus dapat kembali bergairah.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....